DetikNews
Rabu 30 Mei 2018, 12:51 WIB

Laporan Dari Azerbaijan

Bukber KBRI Baku: Cerita Hangat, Kuliner Nusantara dan Pimpinan Ponpes Gontor

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Bukber KBRI Baku: Cerita Hangat, Kuliner Nusantara dan Pimpinan Ponpes Gontor Suasana berbuka puasa bersama di KBRI Baku. Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani
FOKUS BERITA: Mosaik Dunia Islam
Baku - Ajang buka bersama di KBRI menjadi obat kangen bagi warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri. Di sini, mereka saling bersilaturahmi dan bertemu masakan Nusantara.

Setidaknya hal ini yang terlihat detikcom dan sejumlah jurnalis Indonesia saat berkesempatan menghadiri buka bersama di KBRI Baku, pada Selasa (29/5) malam waktu Azerbaijan.

Dubes RI untuk Azerbaijan, Husnan Bey Fananie menyambut kami dan tamu WNI lainnya dengan hangat. Husnan bercerita banyak tentang sejarah negeri yang kami kunjungi ini.



Husnan menceritakan bagaimana Azerbaijan pernah menjadi bagian dari Persia saat imperium Safavi, sebelum akhirnya menjadi bagian dari imperium Rusia, merdeka dan kembali jadi jajahan Uni Soviet selama 71 tahun sebelum akhirnya merdeka kembali tahun 1991.

"Saat di bawah Soviet, banyak masjid di Azerbaijan dihancurkan. Bukan cuma masjid, juga gereja dan sinagog," tutur Husnan, menjelaskan bagaimana pengaruh sekulerisme tumbuh di Azerbaijan.

Di bawah pengaruh komunis Soviet juga, bahasa Azerbaijan yang mendapatkan pengaruh dari bahasa Turki lama, dihilangkan dan diwajibkan memakai bahasa Soviet.

Bukber di KBRI Baku: Cerita Hangat, Kuliner Nusantara dan Pimpinan Ponpes GontorDubes RI untuk Azerbaijan, Husnan Bey Fananie. Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani


"Pengaruh Turki juga terasa di Azerbaijan. Bahasa Azerbaijan kan bahasa Turki lama, itu dihilangkan saat era Soviet. Tentara Turki juga yang membantu mengusir tentara Soviet saat warga sipil Baku dibantai pada 20 Januari 1990. Maka Azerbaijan punya utang budi ke Turki, tapi Turki memang tulus ingin membantu," tuturnya.

Di tengah hangatnya Husnan bercerita, magrib pun tiba. Takjil bubur biji salak, kurma dan martabak yang sudah dibuat oleh keluarga Dubes Husnan dan staf KBRI Baku pun disantap.

Bukber di KBRI Baku: Cerita Hangat, Kuliner Nusantara dan Pimpinan Ponpes GontorHidangan khas Nusantara obat kangen WNI. Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani


Di tengah menyantap takjil, Husnan memaparkan bahwa buka bersama ini rutin diadakan saat bulan Ramadan bagi para WNI di sini.

"WNI di sini sekitar 70-80 orang. Orang KBRI sendiri sekitar 30-an orang. WNI di sini kebanyakan ekspatriat di perusahaan minyak. Yang studi sekitar 10-an orang," imbuhnya.



Husnan pun mengajak para tamunya salat magrib. Salat magrib diimami pimpinan Pondok Pesantren Gontor KH Hasan Abdullah Sahal yang menjadi tamu istimewa KBRI Baku hari itu.

Bukber di KBRI Baku: Cerita Hangat, Kuliner Nusantara dan Pimpinan Ponpes GontorPimpinan Ponpes Gontor KH Hasan Abdullah Sahal. Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani


Setelah itu, masakan Nusantara seperti rawon, sate ponorogo, bakwan jagung, martabak dan mie goreng dengan lahap disantap menjadi obat rindu para WNI pada kampung halaman.



(rns/rns)
FOKUS BERITA: Mosaik Dunia Islam
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed