Karamnya Cinta Artidjo ke Perempuan New York

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 29 Mei 2018 13:26 WIB
Artidjo Alkostar (ari/detikcom)
Jakarta - Artidjo Alkostar muda layaknya lelaki umumnya. Dimabuk cinta dan romantis. Tapi takdir selalu memiliki jalannya sendiri-sendiri.

Pada 1989, ia mendapatkan beasiswa belajar di Columbia University, New York. Ia tiba di negeri Paman Sam dijemput Sidney Jones.

Perlahan, pria yang lahir di sebuah desa kecil di Situbondo, Jatim itu mulai berubah. Ia mulai terbiasa sarapan di sebuah kafe layaknya orang kantoran di New York. Hari berganti hari, hingga datang seorang perempuan yang mengusiknya. Mereka kerap breakfast di kafe yang sama, tapi Artidjo belum berani menyapanya. Hingga keberanian itu ada.

"Ini toh di New York, bukan di Yogyakarta yang banyak mahasiswa UII-nya," kata Artidjo dalam hati.


Hal itu tertulis dalam buku 'Alkostar, Sebuah Biografi' karya Puguh Windrawan di halaman 83 yang dikutip detikcom, Selasa (29/5/2018). Akhirnya ia berkenalan dengan perempuan berambut pirang sebahu itu, Michelle Banrout.

Sejak saat itu, hidup Artidjo menjadi lebih berwarna. Bermula dari meminta nomor telepon, Artidjo akhirnya mengajak Michelle nonton Home Alone. Rona-rona asmara tumbuh. Artidjo memanggil perempuan pujannya dengan 'Minnesota Girl'. Sebaliknya, Michelle memanggil balik dengan panggilan sayang 'Artichoke', diambil dari sebuah nama kafe di kota itu.


Cinta semakin berkembang. Artidjo berkenalan dengan keluarga Minnesota Girl. Sebagai balasannya, Artidjo mengajak Michelle ke Situbondo, mengenalkan ke keluarga besarnya.

"Oke, aku ikut juga ke Indonesia," ujar Michelle.

Tapi di last minutes, ada anggota keluarga Michelle yang sakit. Ia urung ke Indonesia mengantar Artidjo dan menemui keluarga kekasihnya. Akhirnya, mereka terjebak dalam long distence relationship (LDR).

Awalnya, mereka masih sering berkirim surat. Michelle sempat membubuhkan tanda bibir di suratnya dan mimpi hidup bersama Artidjo.

Tapi, New York-Yogyakarta terbentang ribuan km. Telepon tidak pernah nyambung, karena Artidjo tidak punya telepon. Tidak ada internet, tidak ada video call layaknya era milenial. Cinta mereka perlahan luntur. Artidjo akhirnya menyadari cinta mereka tak bisa bertahan. Mereka akhirnya berpisah.

"Artidjo memang bukan pribadi ekspresif. Dia cenderung pasif dan menunggu meski senang dengan film-film India bertemakan percintaan. Beberapa kali saya memergokinya menonton film-film dimaksud di bioskop Soboharsono dan Widya yang terletak di pojok Alun-alun Utara Yogyakarta pada 1980-an. Artidjo bukan juga pribadi kaku, tertutup dan suka memaksakan kehendak, melainkan luwes, terbuka dan sangat demokratis," ujar sahabat Artidjo, Suparman Marzuki. Suparman belakangan menjadi Ketua Komisi Yudisial (KY).



Artidjo sebut koruptor yang cengengesan di TV hina rakyat Indonesia! Simak selengkapnya lewat video berikut ini:

[Gambas:Video 20detik]

(asp/dha)