DetikNews
Rabu 23 Mei 2018, 23:02 WIB

Nostalgia Cak Imin Sebelum Reformasi: Mau Berkumpul Harus Izin Aparat

Akfa Nasrulhaq - detikNews
Nostalgia Cak Imin Sebelum Reformasi: Mau Berkumpul Harus Izin Aparat Foto: dok. MPR
Jakarta - Wakil Ketua MPR Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mengaku masih kerap bernostalgia era sebelum Reformasi. Dia mengungkapkan, 20 tahun lalu, lima orang berkumpul saja harus meminta izin kepada aparat keamanan. Sedangkan sekarang, menurutnya, izin itu sudah tidak diperlukan lagi.

"Kalian mau kumpul-kumpul, sudah tak perlu izin. Perubahan yang terjadi selama 20 tahun ini begitu cepat dan mendasar," ujar Cak Imin saat menjadi pembicara di kampus Bina Sarana Informatika, Kalimalang, Jakarta Timur, Rabu (23/5/2018).

Menurutnya, setelah 20 tahun dilewati, bangsa ini sekarang menikmati kebebasan demokrasi. Bagi Cak Imin, demokrasi dan kebebasan itu seperti oksigen, diperlukan setiap orang. Bila tanpa oksigen, tentu manusia tak bisa hidup.

Sementara itu, ketika sikap otoriter pemerintah membelenggu kehidupan manusia, orang tak bebas berekspresi. Dalam masa otoritarian, menurut Cak Imin, kondisi itu membuat kebodohan.


"Kalau dalam masa sekarang generasi muda tak pintar, itu kebangetan," papar Cak Imin.

Diungkapkannya, pada masa sekarang ini, banyak lahir dan tercipta teknologi baru, terutama dalam komunikasi. Disebut oleh pria asal Jombang itu, terciptanya teknologi baru membawa perubahan yang radikal dan mendasar.

"Dunia internet telah melahirkan revolusi. Dari perubahan ini membawa dampak pada masalah tenaga kerja, bisnis, dan hubungan antarmanusia. Kita harus cepat menyesuaikan perubahan," ujar Cak Imin.

Dia menyebut dampak teknologi yang membawa perubahan harus dibaca secara cermat. Dia mengusulkan adanya tata hubungan dan budaya baru dalam menghadapi majunya teknologi dengan membangun rasa kebangsaan dan semangat yang tak luntur.

"Perubahan teknologi harus tetap perlu memperhatikan kearifan lokal, contohnya media sosial yang berkembang di masyarakat sering membuat hubungan antarmanusia menjadi renggang. Anak sekarang lebih suka memegang handphone," ungkap Cak Imin.


Akibatnya, hal itu membuat anak mengabaikan orang tuanya. Tak hanya itu, aneka media sosial membuat terjadinya tsunami berita. Masalahnya adalah ketika hoax banyak bermunculan. Untuk itu, dia berharap masyarakat waspada terhadap berita yang tidak benar.

"Bila kita tak waspada, kita akan termakan sampah informasi. Ego yang ada diperkecil demi kepentingan yang lebih besar," pungkas Cak Imin.
(idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed