DetikNews
Selasa 22 Mei 2018, 20:39 WIB

Tuduhan 'Teroris Pengalihan Isu' Bikin Polisi Jadi Korban 2 Kali

Audrey Santoso - detikNews
Tuduhan Teroris Pengalihan Isu Bikin Polisi Jadi Korban 2 Kali Aksi teror di Surabaya (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Peneliti bidang perkembangan politik lokal Profesor Dr Hermawan Sulistyo heran ketika muncul pemikiran serangan teroris adalah rekayasa pemerintah untuk mengalihkan isu. Yang membuat tak masuk logika, kata Hermawan, adalah jika pemerintah merekayasa sesuatu yang justru membuat hilangnya dukungan dari masyarakat.

"Bagaimana mungkin pemerintah membuat skenario yang membuat dirinya justru kehilangan dukungan masyarakat?" kata Hermawan dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Selasa (22/5/2018).


Hermawan mengutip istilah 'kelirumologi' yang diperkenalkan seniman Jaya Suprana. Menurut dia, pemahaman kelirumologi berkembang belakangan pascaserangan teroris yang menyita perhatian masyarakat, sejak bom meledak di tiga gereja di Surabaya.

"Istilah lucu-lucuan 'kelirumologi' diperkenalkan oleh Jaya Suprana untuk merujuk mirip fallacy dalam kosakata Inggris, yaitu hal-hal yang rancu dan keliru dalam kontestasi wacana yang ada dan berkembang. Kekeliruan ini tampak dalam wacana-wacana tentang terorisme belakangan ini," ujar Hermawan.


Hermawan mengujarkan kekeliruan bisa karena tidak sengaja, tapi bisa juga merupakan kesengajaan demi tujuan tertentu. Hermawan menilai munculnya pikiran aksi teror sebagai pengalihan isu dapat menjadi masalah serius saat digunakan pihak-pihak lain sebagai senjata untuk menyerang pemerintah dan aparat penegak hukumnya.

"Manipulasi fakta itu menjadi masalah serius manakala ada politikus yang memanfaatkan isu terorisme untuk menyerang polisi dan pemerintah. Terorisme sebagai masalah kriminal yang bersifat extraordinary dipelintir menjadi isu politik. Terjadi viktimisasi," ucap dia.

"Korban polisi, dijadikan korban lagi, karena dituduh bagian dari skenario besar memojokkan umat Islam. Jadi mereka menjadi korban dua kali. Tanpa mempedulikan fakta bahwa banyak korban polisi juga muslim," imbuh Hermawan.


Hermawan menyebut orang-orang yang menyebarkan pemahaman pengalihan isu adalah orang-orang yang justru mendukung suburnya teroris di Tanah Air.

"Tokoh-tokoh politik yang sebelumnya sudah bersikap intoleran dan membangun suasana radikal berusaha mengalihkan produk kekerasan politik dalam bentuk terorisme sebagai rekayasa. Mereka bukan hanya tidak berperasaan dan tidak berempati, tapi juga jahat. Intoleransi terbukti menumbuhkan radikalisme, dan radikalisme adalah lahan subur bagi terorisme," tutur Hermawan.

Menurut Hermawan, anggapan bahwa teroris lahir karena adanya ketimpangan ekonomi dan pelaku-pelakunya berasal dari masyarakat kelas bawah merupakan pemikiran keliru. Hasil pengamatannya, teroris saat ini sebagian masuk kategori kelas menengah ke atas.

"Jika sebelumnya kebanyakan teroris berasal dari kelas bawah, teroris 'zaman now' dari kelas bawah sampai atas yang lebih tinggi, bahkan kelas menengah. Yang dari lapisan bawah masih mampu menyewa rumah Rp 5-10 juta per tahun. Sebagian malah dari kelas menengah. Jadi, keliru jika mereka dianggap melakukan teror karena faktor ekonomi," terang Hermawan.


Kekeliruan lagi, lanjut Hermawan, saat adanya anggapan teroris menjadikan simbol kapitalisme atau Amerika sebagai target. Pendapat Hermawan, saat ini ideologi teroris semakin fatal karena mereka menyerang apa pun yang tak sesuai dengan jalan pikiran mereka.

"Anggapan bahwa mereka melakukan amaliyah dengan tujuan menghancurkan Amerika atau kapitalisme, keyakinan ideologis, keagamaan mereka lebih fatalistik. Jika pada periode sebelumnya teroris membutuhkan simbol-simbol kapitalisme dan adidaya Amerika, kali ini mereka sekadar mencari sasaran pemicu yang tidak signifikan," tandas Hermawan.

"Mereka tidak merasa perlu masuk ke gereja, lalu meledakkan bom di dalam gereja. Cukup di halaman gereja saja. Begitu pula dengan kantor-kantor polisi. Cukup pos-pos kecil, yang penting ada polisinya," tuturnya.


Dari pandangan Hermawan, tujuan para pelaku teror di Indonesia sebenarnya tidak seluruhnya untuk kepentingan Islam. Mereka melakukan aksi teror untuk mati 'syahid'.

"Tujuan amaliyah mereka bukan pada perjuangan Islam secara kolektif, melainkan mati dan langsung masuk surga. Thogut sebagai sasaran, hanya menjadi sarana untuk menuju 'surga'," Hermawan menambahkan.

"Ini menjelaskan mengapa muncul fenomena baru teroris sekeluarga. Mereka yakin bahwa amaliyah yang mereka lakukan bisa sekaligus membawa anak-anak naik ke surga bersama mereka, orang tuanya," tutup dia.
(aud/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed