DetikNews
Selasa 22 Mei 2018, 15:08 WIB

Artidjo Pensiun: Dari Soeharto, Antasari Azhar, hingga Ahok

Andi Saputra - detikNews
Artidjo Pensiun: Dari Soeharto, Antasari Azhar, hingga Ahok Artidjo Alkostar (ari/detikcom)
Jakarta - Artidjo Alkostar pensiun tepat hari ini karena menginjak usia 70 tahun. Selama 18 tahun menjadi hakim agung, ia menangani banyak perkara menonjol. Dari mantan presiden Soeharto, Antasari Azhar, hingga Ahok.

Dalam catatan detikcom, Selasa (22/5/2018), Artidjo mulai memegang palu hakim agung sejak awal tahun 2000. Namanya disodorkan oleh Menteri Kehakiman kala itu, Yusril Ihza Mahendra.

Setelah itu, ia memegang perkara-perkara besar. Seperti kasus mantan presiden Soeharto. Saat itu kasus Soeharto ditutup oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) karena Soeharto menderita sakit permanen.


Jaksa kasasi dan perkara itu diadili oleh Syafiuddin Kartasasmita (Ketua Muda MA bidang Pidana), Sunu Wahadi, dan Artidjo. Ketiganya menyatakan penuntutan JPU terhadap terdakwa HM Soeharto sudah dapat diterima dan memerintahkan JPU melakukan pengobatan terhadap terdakwa sampai sembuh atas biaya negara. Setelah sembuh, terdakwa dapat dihadapkan kembali ke persidangan. MA juga menyatakan melepaskan terdakwa dari tahanan kota dan membebankan biaya perkara dalam semua tingkat pengadilan kepada negara.


Setelah kasus Soeharto, Artidjo terus menangani perkara besar lainnya. Salah satunya Antasari Azhar. Di tingkat kasasi, Artidjo tetap menyatakan Antasari Azhar bersalah. Majelis kasasi itu terbelah. Hakim agung Surya Jaya menilai Antasari tidak bersalah sama sekali.

"Keterangan Sigit yaitu 'terdakwa bilang harus ada tindakan konkret untuk menyelesaikan teror, ancaman', tidak dapat dikatakan suatu bentuk penganjuran. Makna kalimat itu agar supaya dilakukan tindakan nyata untuk memberi rasa aman bagi Antasari terlepas dari teror atau ancaman," ujar Surya.

Dunia kedokteran juga sempat digegerkan oleh ketokan palu Artidjo. Pangkalnya, Artidjo menjatuhkan vonis 10 bulan penjara kepada dr Ayu karena dinilai lalai saat mengoperasi pasien sehingga pasien meninggal dunia. Padahal kolega dr Ayu menilai dr Ayu dalam melakukan operasi caesar sudah sesuai dengan prosedur.


Demo besar-besaran para dokter digelar di Jakarta dan seluruh penjuru Indonesia. Khusus di Jakarta, mereka menggeruduk Mahkamah Agung (MA).

Pada Februari 2014, MA menganulir vonis Artidjo itu. Majelis PK terdiri dari M. Saleh sebagai ketua majelis, dengan anggota Surya Jaya, M. Syarifuddin, Margono, dan Maruap Dohmatiga Pasaribu. Dalam putusan PK tersebut, Surya Jaya berbeda pendapat dan sependapat dengan Artidjo, yaitu dr Ayu bersalah.

Baca juga: MA Tolak PK Ahok

Kasus terakhir yang menarik perhatian publik dan ditangani Artidjo adalah saat menjadi ketua majelis PK atas terdakwa Ahok. Putusan itu diketok secara bulat oleh Artidjo Alkostar, Salman Luthan, dan Margiatmo. Ketiganya menyatakan tidak menemukan kekhilafan dalam putusan Ahok.
(asp/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed