DetikNews
Senin 21 Mei 2018, 08:14 WIB

Gesekan Ahmadiyah-Warga di NTB Sudah Sejak 1990

Mei Amelia R - detikNews
Gesekan Ahmadiyah-Warga di NTB Sudah Sejak 1990 Foto: Faruk Nickyrawi/detikcom
Lombok Timur - Gesekan kelompok Ahmadiyah dengan warga di Desa Greneng, Kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur, bukan pertama kali terjadi. Gesekan tersebut sudah terjadi sejak tahun 1990.

"Ini akumulasi kasus sejak lama, sejak tahun 1990 sudah ada tetapi kami bisa mediasi dan mendamaikan setelah kelompok Ahmadiyah ini menyatakan bertaubat," kata Pjs Bupati Lombok Timur Akhsanul Khalik saat berbincang dengan detikcom, pada Minggu 20 Mei 2018 malam.

Dalam setiap kesempatan ada gesekan itu selalu dilakukan mediasi yang membuahkan pernyataan. Terakhir, penganut Ahmadiyah pimpinan JS (45) ini membuat kesepakatan pada April 2017.

"Pada April 2017 yang lalu para pimpinan jemaat Ahmadiyah Greneng Sakra Timur pernah menandatangani perjanjian di kantor bupati. Namun, mereka tidak patuh terhadap isi perjanjian," jelasnya.



Ada tiga poin kesepakatan Ahmadiyah dalam upaya mediasi pada 8 April 2017 itu, yakni:

1. Untuk tidak akan menyebarluaskan paham ahmadiyah kepada masyarakat sebagaimana amanat Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 2008, Nomor KEP-033/A/JA/6/2008, Nomor 199 Tahun 2008 tengang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyag Indonesia dan warga masyarakat.

2. Untuk kembali kepada ajaran Islam dengan melaksanakan aktivitas ibadah bersama dengan menjaga kondusifitas daerah khususnya Desa Greneng.

3. Untuk dikenai sanksi hukum atas pelanggaran pernyataan ini sesuai ketentuan perundang-undangan.

Surat pernyataan itu ditanda tangani oleh 6 orang perwakilan pengikut paham Ahmadiyah yang tinggal di Desa Greneng, Sakra Timur, Lombok Timur dan disaksikan oleh Hasyim (Camat Sakra Timur), Rudi Haelin (Kepala Desa Greneng), Sudirman (Kadus Lauk Eat), Hardi (Kadus Jerian), Sapoan (Kadus Lingkok Reke), Lukman (Kadus Apit Toya), Abdul Hanan (Kadus Merta), Mujemal (Ketua BPD), Ipda L Mahrum (Kapolsek Sakra Timur).

Serangan Mendadak

Setelah ada surat pernyataan tersebut, gesekan kembali muncul pada Sabtu (19/5) siang lalu. Sekelompok warga Desa Greneng, Kecamatan Sakra Timur, menyerang rumah JS (45) yang merupakan pimpinan Ahmadiyah di desa tersebut.

"(Warga Ahmadiyah) lagi di rumahnya, lagi santai-santai saja kan itu tiba-tiba pukul 11.00 hingga 12.00 WITa mulai kejadian sampai sore," kata Akhsanul.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Hanya saja rumah warga Ahmadiyah mengalami kerusakan. Total 6 rumah Ahmadiyah dirusak warga.

"Ada yang dilempari dan didorong kayu, dan sudah dibersihkan pecahan kacanya oleh anggota Polri, TNI dan Satpol PP. Jadi tidak ada yang menyerang fisik mereka," katanya.


Sementara itu, Akhsanul mengklarifikasi tidak ada warga Ahmadiyah yang berlari ke hutan pada saat diserang warga. Sebab, menurut Akhsanul, polisi langsung mengamankan pengikut Ahmadiyah ini ke kantor Polres Lombok Timur.

"Disebut ada warga Ahmadiyah yang lari ke hutan, itu sesungguhnya tidak ada karena tidak ada hutan juga, itu kampung saja. Tidak ada yang lari, mereka tidak diapa-apakan juga, karena polisi dan Satpol PP langsung mengamankan mereka," tuturnya.


Dipicu Persoalan Sepele


Penyerangan warga Desa Greneng terhadap kelompok Ahamdiyah ini dipicu persoalan sepele. Bermula ketika ada anak warga Desa Greneng yang ikut belajar ngaji di Ahmadiyah dan terlibat perkelahian di situ.

'Kemarin dipicu ada anak-anak mengaji di warga Ahmadiyah ini. JS (45)-pimpinan Ahmadiyah-ini ngajarkan anak-anak mengaji," kata Akhsanul.

Pada saat mengaji, anak di luar warga Ahmadiyah ini terlibat perkelahian di sana. Dia kemudian pulang dan mengadu kepada orang tuanya.

"Kemudian anak ini pulang ke rumahnya dan mengatakan dia kelahi di situ," katanya.

Mengetahui ada anak warga Desa Greneng yang mengaji di tempat JS, sebagian warga marah sehingga hal ini memprovokasi warga lain untuk mendatangi rumah JS.

"Ada warga lain mengatakan 'kenapa anak ini ngaji di Ahmadiyah?', kemudian masyarakat terprovokasi dan secara tidak ada komando warga bergerak ke rumah JS itu," lanjutnya.

Di sekitar rumah JS itu ada rumah warga lain yang terkena imbas penyerangan. Korban tersebut diduga anggota kelompok Ahmadiyah. Total dua rumah di situ yang dirusak, termasuk rumah JS.

"Tapi masyarakat bergerak sendiri ke tempat lain, sehingga total 6 rumah yang dirusak. (Jarak rumah yang dirusak ke rumah JS) dekat siti juga, lokasi sekitar 300 meteran," katanya.


Ekslusivitas Ahmadiyah


Perbedaan keyakinan antara warga dengan kelompok Ahmadiyah menjadi salah satu penyebab munculnya gesekan yang selama ini terjadi. Di sisi lain, pengikut Ahmadiyah ini mengeksklusifkan diri dari masyarakat sekitar.

"Mereka tidak menampakan diri, mereka mengeksklusifkan diri, tandanya ada parabola. Kami nggak tahu apa itu (parabola) untuk menangkap siaran luar negeri dan mereka tidak mau menyatu dengan masyarakat setempat," jelasnya.

Selama ini, warga Ahmadiyah tidak menampakkan aktivitas ibadah mereka. Hanya saja, warga merasa terganggu karena keyakinan mereka berbeda.

"Tidak ada yang mengganggu, yang buat masyarakat terganggu itu mereka berbeda keyakinannya. Ini persoalan ideologi, masyarkat setempat juga tidak mau ternodai oleh mereka," lanjutnya.

Pemkab Lombok Timur saat ini berupaya untuk memediasi warga dengan kelompok Ahmadiyah. Pemerintah berupaya mengembalikan mereka ke rumahnya masing-masing. "Sementara ditampung dulu di LKK (Loka Latihan Kerja)," tuturnya.
(mei/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed