ADVERTISEMENT

NU-Muhammadiyah Diminta Tangkal Terorisme Lewat Dakwah

Faiq Hidayat - detikNews
Selasa, 15 Mei 2018 18:23 WIB
Foto: Deni Prastyo Utomo/detikcom
Jakarta - Pengurus MUI Abdul Moqsith Ghazali meminta Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menangkal terorisme melalui dakwah. Kedua ormas Islam itu disebut bisa berdakwah di setiap perkampungan untuk mencegah aksi terorisme.

"Tentu ormas Islam punya peran. Pemerintah punya mandat hukum untuk menangkap pelaku. Di mana peran ormas seperti NU dan Muhammadiyah? Mereka punya peran memecah gelombang terorisme agar arus tidak deras ke umat dan perkampungan," ujar Abdul Moqsith dalam acara diskusi 'Setelah Mako Brimob dan Bom Surabaya' di aula Rumah Pergerakan Gusdur, Jl Taman Amir Hamzah No 8, Pegangsaan, Jakarta, Selasa (15/5/2018).


Cara dakwah, menurut Abdul Moqsith, ulama atau dai bisa menyampaikan nilai-nilai keberagaman dan toleransi kepada masyarakat. Nilai-nilai tersebut bisa mencegah paham terorisme masuk ke masyarakat, termasuk perempuan dan anak, agar tak terlibat dalam aksi terorisme.

"Salah satunya itu menyediakan dakwah moderat dan yang toleransi, bahwa keragaman bukan ancaman, bahwa keragaman adalah sunatullah. Kita tidak bisa memilih lahir di Indonesia, bertetangga orang Kristen, Hindu, dan Buddha. Ini semua kehendak Allah SWT," tutur Abdul Moqsith.

Sementara itu, Direktur Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid mengatakan setiap sekolah harus mengajarkan paham kebinekaan kepada anak-anak. Bahkan setiap guru sekolah juga harus menyampaikan nilai-nilai Pancasila dan kebinekaan.

"Kurikulum sekolah harus secara sadar mengajarkan pentingnya kebinekaan, guru harus aktif sisipkan nilai-nilai itu karena anak belajar dari semua interaksi di sekolah. Mereka tidak belajar ilmu saja, tapi nilai-nilai harus aktif ditanamkan," ucap Yenny.


Selain itu, Yenny meminta kaum milenial peka melihat gejala terorisme. Sebab, kaum milenial mampu menangkal terorisme di media sosial.

"Saya imbau agar (generasi) milenial merasa ini isu (terorisme) mereka. Kita lihat ini seperti itu Islam toleran. Sebagian besar masyarakat merasa tidak memiliki, itu namanya silent majority, merasa bukan tugas gua. Mereka justru mungkin punya kualitas yang tidak dimiliki aktivis dan para guru pesantren. Pesantren lebih mengerti narasi pesantren, tapi mereka nggak tahu seperti teknologi dan lain-lain, konten Instagram, dan lain-lain," jelas Yenny. (fai/gbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT