3 Anak Bomber di Jatim Alami Tekanan Psikologi Luar Biasa

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 15 Mei 2018 17:14 WIB
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)
Surabaya - Polisi mengatakan anak-anak bomber di Jawa Timur yang selamat, mengalami tekanan psikologi yang luar biasa. Pendampingan kepada para anak-anak ini akan melibatkan pemerhati anak.

"Ada 3 anak dari pelaku bom yang ada di Sidoarjo, dan ada 1 orang anak yang selamat dari kejadian bom yang ada di Polrestabes Surabaya. Pendampingan ini dilaksanakan oleh Polda Jatim dengan mendampingi yang bersangkutan dengan psikolog anak dan pemerhati anak," kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung Mangera saat jumpa pers di Markas Polda Jawa Timur, Jl Frontage Ahmad Yani, Surabaya, Selasa (15/5/2018).



Frans mengatakan anak-anak para bomber yang selamat merupakan korban yang wajib didampingi agar tidak terdoktrin paham radikal orang tuanya. Nantinya, pendampingan itu tak hanya kepada anak tapi juga keluarga yang merawat.

"Mengapa ini kita lakukan pendampingan ini, antara lain adalah mereduksi ketegangan yang ada pada anak itu. Ada relaksasi yang kita laksanakan juga mendampingi anak-anak yang saat sekarang, kalau kita perhatikan ketiga anak ini memang mengalami tekanan yang luar biasa terhadap psikologinya sehingga kita melakukan relaksasi itu. Dan gangguan-gangguan psikologi lainnya yang berhubungan dengan situasi yang didapatkan daripada anak itu, nah kita juga akan mendampingi keluarga daripada korban nantinya," urainya.

Frans menegaskan anak-anak itu adalah korban doktrinasi yang salah. Pendampingan intensif diharapkan bisa mengantisipasi agar anak-anak itu tak terjerumus lingkaran doktrin yang sama dengan orang tuanya.

"Kita sepakat bahwa anak-anak di bawah umur ini adalah korban daripada doktrinisasi. Keluarganya juga akan kita lakukan pendampingan psikologi agar anak ini tidak masuk lagi kepada jaringan-jaringan, doktrinisasi yang salah. Kalau ini sudah berhasil maka Polda Jawa Timur memastikan bahwa anak ini tidak masuk lagi ke lingkaran-lingkaran itu. Agar anak ini tepat nantinya perhatian yang baik, korban-korban aksi terorisme ini," paparnya.


Frans menegaskan anak-anak itu adalah korban doktrinasi yang salah. Pendampingan intensif diharapkan bisa mengantisipasi agar anak-anak itu tak terjerumus lingkaran yang sama dengan orang tuanya.

"Kita sepakat bahwa anak-anak di bawah umur ini adalah korban daripada doktrinisasi. Keluarganya juga akan kita lakukan pendampingan psikologi agar anak ini tidak masuk lagi kepada jaringan-jaringan, doktrinisasi yang salah. Kalau ini sudah berhasil maka Polda Jawa Timur memastikan bahwa anak ini tidak masuk lagi ke lingkaran-lingkaran itu. Agar anak ini tepat nantinya perhatian yang baik, korban-korban aksi terorisme ini," paparnya.

Sejumlah anak yang menjadi korban pengeboman yang dilakukan orang tuanya adalah AR (15, anak kedua Anton), FP (11), anak ketiga Anton), dan GHA (11, anak keempat Anton). Mereka adalah anak Anton dalam peristiwa pengeboman di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, Jatim.

Dari 3 anak Anton, 2 di antaranya dirawat di RS Bhayangkara. Mereka yang dirawat adalah FP dan GHA. Sedangkan satu bocah juga menjadi korban pengeboman di Polrestabes Surabaya.



Tonton juga video tentang anak terduga teroris yang akan diberikan pendampingan psikologis:

[Gambas:Video 20detik]

(ams/fdn)