DetikNews
Sabtu 12 Mei 2018, 07:17 WIB

Kontroversi Amien Rais: Bicara Pekok Hingga Sontoloyo

Faiq Hidayat - detikNews
Kontroversi Amien Rais: Bicara Pekok Hingga Sontoloyo Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais (Foto: Uje Hartono/detikcom)
Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais kerapkali melontarkan ucapan yang kontroversi. Teranyar, Amien menyebutkan bangsa Indonesia adalah bangsa pekok atau bodoh.

Sebab musababnya, undang-undang Migas di Indonesia dianggap pro-asing yang merugikan rakyat. Salah satu contoh kasus Freeport tambang emas hanya sedikit dinikmati Indonesia.

"Ini ada UU yang aneh dan ajaib. Bahwa gas alam di perut bumi Indonesia, itu boleh digunakan oleh bangsa sendiri setelah bangsa lain dicukupi kebutuhannya. Ini mesti bangsa pekok (bodoh)," kata Amien saat mengisi ceramah di Masjid Muthohirin Yogyakarta, Kamis (10/5).

Tak hanya itu, sebelumnnya Amien juga menyebutkan pemimpin yang tidak memikirkan rakyat tetapi menjadi agen kekuatan asing adalah pemimpin sontoloyo.

Kata Amien, pemimpin saat ini tidak sesuai dengan janjinya dan tidak berhasil. Contohnya, janji menambah 10 juta lapangan pekerjaan untuk bangsa sendiri, soal hutang maupun impor pangan belum terealisasi.

"Bung Karno dulu mengatakan kalau ada pemimpin yang tidak memikirkan rakyatnya malah menjadi agen kekuatan tenaga asing itu pemimpin sontoloyo. Jadi kan yang sontoloyo itu siapa," tegas Amien kepada wartawan di Banjarnegara, Minggu (6/5).





Pada 13 April, Amien juga berbicara adanya partai setan dan partai Allah. Amien menyebut PAN, PKS dan Gerindra sebagai kelompok yang membela agama Allah.

"Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan," ujar Amien seperti dikutip dari CNNIndonesia.com. Amien bicara saat memberi tausiyah usai mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/4) pagi.

"Orang-orang yang anti-Tuhan, itu otomatis bergabung dalam partai besar, yaitu partai setan. Ketahuilah partai setan itu, mesti dihuni oleh orang-orang yang rugi, rugi dunia rugi akhiratnya. Tapi di tempat lain, orang beriman bergabung di sebuah partai besar namanya hizbullah, Partai Allah. Partai yang memenangkan perjuangan dan memetik kejayaan," imbuh dia.

Amien tak membeberkan partai apa saja yang masuk kategori partai setan. Ditanya usai acara, Amien menyatakan bahwa yang dimaksudnya adalah cara berpikir, bukan partai dalam konteks politik praktis.

"Saya enggak katakan begitu. Jadi ini bukan partai, tapi cara berpikir. Cara berpikir yang untuk Allah dan yang diikuti oleh setan. Yang cara berpikir gelombang manusia yang prosetan itu pasti akan merugi, sementara gelombang besar yang didikte oleh kehendak Allah pasti menang," kata dia.

Selain itu, mantan Ketua MPR ini pernah mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai program bagi-bagi sertifikat. Jokowi disebut Amien melakukan suatu pengibulan.

Bahkan Jokowi disebut Amien ada unsur pembangkitan PKI dalam pemerintahan Jokowi.

"Ini pengibulan, waspada bagi-bagi sertifikat, bagi tanah sekian hektar, tetapi ketika 74 persen negeri ini dimiliki kelompok tertentu seolah dibiarkan. Ini apa-apaan?" kata Amien saat menjadi pembicara dalam diskusi 'Bandung Informal Meeting' yang digelar di Hotel Savoy Homman, Jalan Asia Afrika, Bandung, Minggu (18/3).

Jauh sebelumnya, Amien mengkritik KPK yang sudah terjadi pembusukan. Amien mengaku tidak mengintervensi pimpinan partai untuk segera mengutus wakilnya ke Pansus Hak Angket KPK lantaran namanya disebut jaksa penuntut umum menerima uang Rp 600 juta dari terdakwa kasus korupsi alat kesehatan Siti Fadilah Supari.

"Nggak sama sekali, ini hal kecil saja. Saya nggak takut kok diusut, tapi saya melihat KPK terjadi pembusukan dari tahun ke tahun. Bukan tebang pilih, superdiskriminatif. Perkara Anda mau bela KPK monggo, kalau saya sebagai rakyat yang punya pikiran yang membela kebenaran," ujar Amien di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (7/6/2017).
(fai/dkp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed