DetikNews
Senin 07 Mei 2018, 19:54 WIB

Fredrich Emosi Banyak Penyidik KPK dan Polisi di Kamar Novanto

Aditya Mardiastuti - detikNews
Fredrich Emosi Banyak Penyidik KPK dan Polisi di Kamar Novanto Fredrich Yunadi (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Adu argumen antara Fredrich Yunadi dengan penyidik KPK Riska Anungnata masih berlanjut. Kali ini Fredrich mendebat Riska tentang pengamanan polisi saat Setya Novanto akan dipindah dari RS Medika Permata Hijau ke RSCM Kencana.

"Ini ada Polri, ini ada satpam, ini ada Pak Novanto evakuasi tapi dihalangi, nggak bisa, persiapan belum lengkap," kata Fredrich sambil menunjuk ke foto yang dipasang di proyektor dalam persidangannya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (7/5/2018).

Riska yang dihadirkan sebagai saksi mengatakan saat itu Novanto tak segera dievakuasi karena kondisi di lapangan. Saat itu menurut Riska situasi kurang kondusif sehingga dikhawatirkan Novanto malah bisa jatuh.


"Betul pak, itu kan aba-aba saya karena saya di lapangan," ujar Riska.

"Tapi kan saya minta segera dievakuasi langsung?" tukas Fredrich.

"Bagaimana jika situasi di lapangan tidak memungkinkan? Bisa terjadi Pak Setya Novanto diinjek-injek pak. Kan saya tahu di lapangan," jawab Riska tegas.

Mejelis hakim menengahi perdebatan tersebut dan minta Fredrich melanjutkan ke pertanyaan. Kali ini Fredrich menyinggung soal kehadiran polisi bersenjata lengkap yang disebut mengintimidasi.

Mulanya Fredrich mengaku sempat ribut dengan salah satu penyidik KPK yang belakangan diketahui bernama Afandi lantaran mengaku bertanggung jawab dengan kehadiran polisi itu. Dia kemudian menunjuk sebuah foto yang menampilkan polisi bersenjata laras panjang di salah satu ruangan. Dia menjelaskan foto yang dimaksud diambil pada 16 November 2017 di RS Medika Permata Hijau.

"Tidak ada (Surat Perintah Penyidikan), bahkan kasus ini sudah masuk Propam," kata Fredrich.

"Pak, saya punya perintah tugas," jawab Riska.

Fredrich yang terus ngotot itu pun ditenangkan hakim bahwa saksi sudah menjawab pertanyaan Fredrich. Namun, mantan pengacara Novanto itu itu terus menyoal kehadiran polisi dengan senjata laras panjang itu.

"Karena mengatakan saya bertanggung jawab makanya terjadi keributan," ujar Fredrich.


"Senjata panjang dibilang nakut-nakutin, itu protapnya mereka pak. Nggak bisa saya ngatur-ngatur mereka," papar Riska.

Riska pun membenarkan dia sempat mendengar keributan tersebut karena berada di dekat lokasi. Fredrich gantian menyoal soal kehadiran penyidik di ruangan Novanto yang dianggap mengganggu pasien, karenanya dia meminta perawat hingga kepala satpam untuk mengusir penyidik.

"Karena kehadiran saudara mengganggu pasien di sebelah-sebelahnya, banyak yang mengadu pada saya," ujarnya.

Riska membantah membuat gaduh di ruangan tempat Novanto dirawat itu. Seingatnya, penyidik senior KPK Ambarita Damanik malah sempat menenangkan Fredrich agar tidak selalu emosi dan bernada tinggi.

"Saya tidak tahu itu pak, yang jelas yang banyak bersuara keras adalah bapak. Saya ingat Pak Damanik bilang, 'sudah pak jangan emosi sabar dulu', bapak yang bersuara keras," tukas Riska.

"Bagaimana saya tidak emosi? Kalau surat ini tidak dengan yang wajar?" jawab Fredrich dengan nada tinggi.

"Bapak emosi itu masalah bapak," jawab Riska singkat.


(ams/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed