Pilgub Sumut 2018

Cagub Edy: Ironis, Banyak Anak Sumut Putus Sekolah

Niken Widya Yunita - detikNews
Kamis, 03 Mei 2018 16:19 WIB
Cagub Sumut Edy Rahmayadi (Foto: Dok Timses Edy Rahmayadi)
Medan - Cagub Sumut nomor urut 1, Edy Rahmayadi menyatakan, masih ada anak-anak di Sumut yang putus sekolah. Padahal untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, maka pendidikan yang diberikan juga harus maksimal.

"Di era globalisasi saat ini, kondisi mutu pendidikan cukup memprihatinkan. Masih banyak anak-anak yang putus sekolah dikarenakan masalah perekonomian. Ini ironis di tengah limpah potensi sumber daya alam di Sumatera Utara ini," kata Edy.


Di Provinsi Sumut, sepanjang 2017 angka putus sekolah mencapai angka 13.703 anak.

Dengan rincian tingkat SMA/MA 3.501 siswa. Untuk tingkat SMP/MTs 5.003 siswa. Untuk tingkat SD/MI angka putus sekolah mencapai 5.199 siswa.

"Ini keprihatinan bagi semua termasuk saya pribadi," kata Edy.

Untuk itu, peringatan Hardiknas harus dijadikan momentum bagi bangsa ini untuk lebih nyata meningkatkan mutu pendidikan.



Misalnya, pemerintah harus bisa menjamin kesetaraan sarana dan prasarana pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan harus adanya kerja sama antara pemerintah dengan anak-anak penerus bangsa.

"Generasi ini harus diwarisi ilmu pendidikan agar mampu menjaga bangsa dari penjajahan globalisasi. Mewarisi ilmu lebih baik ketimbang mewarisi harta kepada generasi kita dan jangan warisi anak-anak dengan kecurangan," imbuh Edy.

Edy menjelaskan alasan ilmu lebih penting dibandingkan harta. Pertama, ilmu menjaga pemiliknya, sedangkan harta harus selalu dijaga oleh siapa yang dititipi kekayaan harta.

"Jika ilmu menguasai harta, maka akan menjadi mulia. Sementara itu, jika harta menguasai ilmu, maka dua perkara ini akan menjadi hina dina," kata Edy.

Menurut Ketum PSSI itu, harta pasti berkurang saat dibelanjakan, sedangkan ilmu akan senantiasa bertambah dan berkah jika ditularkan kepada orang lain.

"Masih banyak lagi yang bisa kita ulas soal ilmu ini. Tapi yang utama adalah ilmu bagi generasi bisa menjamin bangsa ini dari kehancuran," kata Edy.

Tari Persembahan Melayu dan Kungfu

Beberapa hari sebelumnya, Edy dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah (Eramas) menghadiri peringatan ke 13 tahun berdirinya Mahakaruna Buddhist Centre, Medan, Senin (30/4/2018). Tari ini persembahan melayu dan seni kungfu berpadu indah.

Malam peringatan itu juga dijadikan malam pertukaran budaya Indonesia-China. Karena itu, semua kesenian etnik yang ada di Indonesia, Sumatera Utara ditampilkan di acara tersebut. Tampak hadir Ketua Umum Buddhist Centre Indonesia, YM Chaokun Suhu Hui Xiong Mahanayaka, Ketua Panitia, Eddie Kusuma, Pembina Buddhist, Ketut Supardi Tokoh Hindu Pandita, MM Chandra Bose, Ketua Sumatera Berdoa, JA Ferdinandus, tokoh masyarakat Tionghoa, Indra Wahidin, dan H Anif selaku tokoh masyarakat Sumut.

Awal acara para tamu disuguhi Tarian Persembahan Melayu yang biasa ditampilkan untuk menyambut tetamu dalam kebudayaan Sumatera Utara. Kemudian, setelah sambutan, acara penampilan seni kungfu dari Tiongkok memukau para hadirin.

"Sumut ini beragam suku dan agama. Selama ini sangat damai. Malam ini bisa kita lihat di sini," kata Edy.

Menurutnya, hal ini perlu dijaga. Warga Sumut, tidak termakan oleh isu yang dibuat orang tak bertanggung jawab untuk menghambat kemajuan Sumut.

"Dengan kebersamaan ini, Sumut makin maju dan dipercaya investor. Eramas berdiri untuk seluruh masyarakat Sumut. Kekompakan ini harus terjalin agar Sumut semakin baik dan maju sebagai provinsi bermartabat dalam kemajemukan," kata Edy.

Sementara, Anif, yang diminta memberikan sambutannya mengaku terkejut di usia 13 tahun, Buddhist Centre ini merupakan yang terbesar di dunia, berkat karya Suhu Hui Xiong.

"Saya ketemu Suhu Hui Xiong ini 13 tahun lalu. Diskusi, terus tanya perlu apa? Katanya perlu lahan, akhirnya jadilah 18 hektare lahan Buddhist Centre ini. Saya ikhlas (beri lahan itu), karena bagi saya semua agama itu mengajarkan yang baik," kata Anif.

Dalam kesempatan itu, Anif yang dikenal sebagai tokoh muslim dengan berbagai aktivitas sosial ini, mengenalkan Edy dan Musa sebagai cagub dan cawagub Sumut.

"Mereka (Edy-Musa) harus menjaga persatuan dan kesatuan di Sumut ini. Persatuan di Sumut adalah contoh bagi nasional," terangnya.

Sementara, Musa yang diminta tanggapannya terkait kegiatan kebudayaan ini, mengatakan, acara itu sangat baik sebab menampilkan adat dan kebudayaan yang ada di Indonesia.

"Ini adalah kekayaan kita di Sumut. Tari persembahan etnik Melayu, kalau Kungfu etnik Tionghoa, dan dibingkai dalam Indonesia. Ini sangat baik, harus kita lestarikan," katanya.

(nwy/ega)