Blair: Hadapi Teror Tak Cukup dengan Pengamanan

Blair: Hadapi Teror Tak Cukup dengan Pengamanan

- detikNews
Minggu, 10 Jul 2005 00:12 WIB
Jakarta - Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengakui, dalam menghadapi aksi teror tidak hanya cukup dengan meningkatkan pengamanan. Namun yang lebih penting, bagaimana masyarakat dunia menyadari apa yang menjadi penyebab terjadinya aksi teror itu."Peningkatan pengamanan tak cukup untuk menahan sebuah negara dari serangan teror," kata Blair dalam wawancaranya dengan Radio BBC seperti dikutip kantor berita AFP, Sabtu (9/7/2005). Blair menyatakan hal itu setelah dua hari terjadinya serangan bom di kereta api bawah tanah London yang menyebabkan 50 orang tewas dan 700 orang lainnya luka-luka."Mungkin serangan teror seperti ini, solusinya tidak hanya memaksimumkan keamanan," kata Blair. Bagaimana pun juga, kata Blair, pemerintah Inggris dalam mengatasi terorisme tidak akan mengganggu kemerdakaan dan hak asasi warganya.Sementara, polisi yang menyelidiki ledakan bom London memfokuskan penyelidikanya atas kelompok yang terkait dengan Al-Qaeda. Tim pencari mayat berusaha mengeluarkan lebih banyak lagi mayat dari kereta bawah tanah yang ringsek. Para penyelidik belum menyebut tersangka yang terkait dalam serangan paling buruk yang dikenal Ingris sejak Perang Dunia II. Namun, beberapa surat kabar mengatakan polisi telah meminta informasi dari polisi negara-negara Eropa tentang ulama Maroko Mohammmd al Garbuzi, yang tinggal di Inggris selama 16 tahun sebelum menghilang dari rumahnya di utara London tahun lalu. Informasi itu akan dilaporkan Inggris kepada Perancis. Al Garbuzi (45) merupakan kepala Kelompok Perjuangan Islam Maroko (GICM), yang dituduh melakukan serangan yang menewaskan 45 orang di kota Casablanca, Maroko, pada Mei 2003. Sementara pemburuan tetap dilanjutkan, kelompok kedua yang mempunyai hubungan dengan Al-Qaeda lewat pesan Internet menyatakan bertangungjawab atas ledakan tersebut, tiga terhadap sistem kereta bawah tanah London dan satu terhadap sebuah bis."Kelompk mujahidin dari divisi Brigade Abu Hafs al-Masri melakukan serenteran ledakan atas ibukota Inggris, menewaskan dan melukai warganya," kata pernyataan itu. Keaslian pernyataan tersebut masih diragukan.Beberapa suratkabar Inggris hari Sabtu memuat banyak kesedihan mereka yang kehilangan orang yang dicintai. Seperti di New York setelah serangan 11 September 2001, poster dengan tulisan tangan di atasnya bermunculan di stasiun kereta saat para keluarga meminta informasi. Bagi banyak surat kabar, Shahara Islam (20) menjadi salah satu wajah yang terwakili yang hilang di London. Warga kota London asal Bangladesh itu menumpang kereta bawah tanah untuk menuju kantornya di sebuah bank Kamis pagi namun tidak kembali lagi untuk selamanya. Tampaknya nasib buruk telah menimpa muslimah Inggris itu, yang diistilahkan surat kabar the Independent sebagai generasi muda Muslim yang merangkul budayanya sendiri dan budaya Barat. Para menteri Inggris menekankan bahwa badan intelijen Inggris sejauh ini mampu menyoroti serangan itu. Namun seorang pemimpin Islam memperingatkan dalam wawancara dengan sebuah suratkabar Portugis 15 bulan lalu bahwa kelompok yang berkantor di Inggris, Al-Qaeda Europe, akan melancarkan serangan besar. "Di London ada kelompok yang terorganisasir sangat rapi, yang menyebut dirinya Al-Qeda Europe," kata Sheikh Omar Bakri Mohammed, kepala kelompok Al-Muhajiroun yang berkantor di London, kepada harian Portugis Publico lewat wawancara yang disiarkan 18 April tahun lalu. (mar/)


Berita Terkait