ADVERTISEMENT

Sisa Drama Novanto: Teka-teki Kencing Berdiri di RS

Haris Fadhil, Faiq Hidayat - detikNews
Jumat, 27 Apr 2018 21:15 WIB
Setya Novanto di persidangan. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Setya Novanto sudah divonis 15 tahun penjara oleh pengadilan tingkat pertama. Namun masih ada sisa teka-teki mengenai sejumlah hal, salah satunya soal kondisi dia seusai kecelakaan.

Seberapa parah luka Novanto pascakecelakaan pada Kamis (16/11/2017) menjadi salah satu fokus yang digali dalam rangkaian persidangan. Baik itu persidangan Novanto sebagai terdakwa maupun saat Novanto bersaksi untuk terdakwa lainnya.

Perawat RS Medika Permata Hijau, Indri Astuti, mengaku sempat melihat Novanto bisa berdiri tegak meski saat itu disebut mengalami kecelakaan. Namun, menurut Indri, saat Novanto tahu ada yang memperhatikan, tiba-tiba Novanto langsung jadi lemas ketika kembali ke tempat tidur.

Peristiwa itu terjadi pada November 2017 ketika Novanto dibawa ke rumah sakit tersebut setelah disebut mengalami kecelakaan. Indri, yang merawat Novanto, saat itu sebenarnya ingin mengecek tensi Novanto pagi-pagi, tapi Novanto masih tidur.

"Pasien masih tidur. Saya bawa alat tensimeter. Tapi, karena dia masih tidur, saya taruh saja alatnya di kamar itu. Ada dua ibu-ibu juga masih tidur di situ juga," kata Indri ketika bersaksi dalam sidang lanjutan perkara perintangan penyidikan Setya Novanto dengan terdakwa dr Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (2/4/2018).

Berselang 5 menit, Indri kembali ke kamar Novanto. Saat itu, dia mendapati Novanto tengah buang air kecil sambil berdiri di urinal di samping tempat tidur.

[Gambas:Video 20detik]



"Saya kembali lagi ke situ, saya lihat bapak itu sudah berdiri tegak sedang buang air kecil. Dia berdiri tegak, kencing di urinal," ucap Indri.

"Nggak di toilet?" tanya hakim.

"Nggak. Dia di sisi kiri tempat tidur," jawab Indri.

"Begitu saya masuk, mungkin si bapak ini nggak mendengar karena saya buka pintu memang pelan-pelan karena saya pikir masih tidur dan tidak mau membangunkan. Saya lihat saya langsung bilang, 'Pak, saya bantuin.' Si bapak itu kaget, kayak naik badannya gitu. Setelah itu, dia merebahkan badannya dengan susah payah, padahal sudah bisa berdiri," imbuh Indri.

Indri kemudian memeriksa tensi Novanto. Setelah selesai memeriksa, Indri keluar dari ruangan dan menunggu pergantian jam perawat.

Dalam perkara ini, Bimanesh dijerat bersama-sama mantan pengacara Novanto, Fredrich Yunadi, merekayasa rekam medis Novanto untuk menghindari pemeriksaan KPK.

Kesaksian Indri ini kemudian dibantah oleh Novanto. Mantan Ketum Golkar itu menyebut keterangan Indri mengarang.

Hal itu disampaikan Novanto ketika bersaski untuk terdakwa Bimanesh Sutarjo hari ini.

Awalnya hakim Mahfudin mengonfirmasi soal pernyataan perawat yang mengaku melihat Novanto bisa kencing berdiri pada pagi hari. Kemudian perawat itu menawarkan diri membantunya, tetapi Novanto kaget.



"Paginya sekitar jam setengah 6 ada perawat yang melihat Saudara buang air kecil posisi berdiri?" tanya hakim Mahfudin dalam sidang lanjutan Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Raya, Jakarta Pusat, Jumat (27/4).

"Kan ada istri saya jam 7-8 itu," jawab Novanto.

"Akhirnya dia tawarkan, 'Apa bisa saya bantu, Pak?'" tanya hakim.

"Nggak ada," ucap Novanto.

"Katanya Saudara kaget itu gimana?" tanya hakim lagi.

"Nggak ada," sanggahnya.

"Waktu pagi?" tanya Mahfudin.

"Kan ada istri saya yang nolong pakai pispot," ujar Novanto.

"Sebelumnya kali pas istri belum bangun?" cecar hakim.

"Bukan," ungkap Novanto.

"Saudara sempat kaget, Saudara tidur lagi?" kata hakim terus menanyai Novanto.

"Ha-ha-ha... nggak. Ngarang," kata Novanto.

Mendengar hal itu, hakim mengingatkan bahwa saksi sebelumnya juga disumpah seperti Novanto saat ini. Namun Novanto menyebut saksi tersebut mengarang dan berdosa karena berbohong.

"Yang ngarang siapa, Saudara atau dia. Dia disumpah loh sama seperti Saudara juga?" ucap hakim.

"Dosa dia itu," sebut Novanto.

Novanto dan Indri saling membantah soal kejadian kencing pascakecelakaan. Siapa yang benar? Hakim tentu bisa mempertimbangkan berdasarkan alat bukti dan keterangan lainnya. (fjp/fjp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT