DetikNews
Rabu 25 April 2018, 20:00 WIB

Beda Amien dan Buya Syafii soal 'Pengajian Politik'

Indra Komara, Pertiwi - detikNews
Beda Amien dan Buya Syafii soal Pengajian Politik Buya Syafii dan Amien Rais (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Mendekati 2019, ketika pemilihan presiden-wakil presiden akan digelar, tensi politik semakin tinggi. Sampai-sampai Amien Rais meminta para ustazah menyisipkan unsur politik di setiap kali pengajian.

Menurut Amien, pengajian yang disisipi kepentingan politik praktis itu adalah sebuah keharusan. Amien ingin para ustazah memiliki andil dalam Pilpres 2019.


"Ini ustazah peduli negeri, pengajian-pengajian disisipi politik itu harus," kata Amien di Balai Agung, Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2018).

"Nah, kalau di DKI kita diberi oleh Allah keajaiban, insyaallah tahun depan ada keajaiban yang lebih besar lagi," imbuh Amien.

Amien juga ingin para ustazah selalu memanjatkan doa agar 2019 kelak Indonesia memiliki pemimpin baru. "Jam 3 pagi bangun, ambil air wudu, kemudian salat, berdoa. Allah pakai bahasa apa saja bisa. Jadi ya Allah, mudah-mudahan negeri kami, negeri muslim terbesar di muka bumi ini, pada tahun 209 (2019) mendapat presiden yang baru," ujarnya.

Namun pendapat Amien itu ditentang suksesornya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif atau yang karib disapa Buya Syafii. Dia mengatakan kegiatan keagamaan tidak boleh disisipi kepentingan politik praktis.


"Kalau politiknya politik tinggi (tidak masalah). Tapi kalau politik tujuannya untuk kaitan pilkada, pemilu, cari pengikut, itu tidak benar," ujar Buya Syafii, Rabu (25/4/2018).

Buya mengatakan agama sebaiknya tidak digunakan untuk kepentingan seperti itu. Dia mengutip Sukarno bahwa beragama harus beradab dan berbudaya.

"Seharusnya, beragama itu, kalau menurut Bung Karno, harus beradab, harus berbudaya. Beragama bolehlah, tapi tidak dipakai untuk tujuan rendahan, jangan kotori agama dengan tujuan-tujuan yang rusak," tutur Buya.

"Kalau mau pakai agama, jadikan sebagai acuan moral. Politisi itu harus bisa tampil secara beradab, saling menghargai, dan tidak sampaikan ujaran kebencian. Kalau hanya diam saja, sekarang mereka yang memperalat agama bisa leluasa. Itu harus dilawan. Kita harus menunjukkan bahwa agama itu jangan dipakai untuk tujuan yang kotor, kumuh," kata Syafii.
(dhn/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed