DetikNews
Rabu 25 April 2018, 07:14 WIB

Peta Kekuatan Duet Jokowi-Prabowo

Rivki - detikNews
Peta Kekuatan Duet Jokowi-Prabowo Jokowi dan Prabowo (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Joko Widodo dan Prabowo Subianto merupakan lawan politik di Pilpres 2014. Namun kini muncul skenario duet Jokowi dan Prabowo. Bagaimana peta kekuatannya jika 2 orang itu bergabung?

Dirangkum detikcom Rabu (25/4/2018), lembaga survei Poltracking Indonesia, pernah melakukan kajian soal duet ini. Hasilnya?

Simulasi model pertama, Jokowi jadi capres dan Prabowo jadi cawapresnya. Mereka melawan capres Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan cawapres Gatot Nurmantyo. Hasilnya Jokowi-Prabowo menang meraup 50,3% dibanding AHY-Gatot yang meraup 11,6% suara responden. Yang tidak tahu dan tidak menjawab ada 38,1%.



Model kedua, Jokowi-Prabowo versus Gatot-AHY. Tetap Jokowi-Prabowo menang dengan raihan 50,6% melawan Gatot-AHY yang meraih 12,6%. Sisanya tak menjawab.

Survei nasional bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019' ini menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang lebih 2,83%.

Litbang Kompas juga melakukan hal yang sama. Pada survei itu, Prabowo adalah kandidat cawapres terkuat Jokowi nomor 2 dengan dukungan 8,8% responden. Sedangkan nomor 1, adalah Jusuf Kalla.

Survei tersebut dilakukan pada 21 Maret hingga 1 April 2018. Survei dilakukan kepada 1.200 secara periodik. Populasi survei adalah warga Indonesia berusia di atas 17 tahun. Responden dipilih secara acak bertingkat di 32 provinsi dan jumlahnya ditentukan secara proporsional. Tingkat kepercayaan survei ini 95 persen dengan margin of error plus minus 2,8 persen.

Lantas akankah skenario itu mulus? Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono, mengatakan skenario itu dibuka karena PDIP dan Jokowi panik.



Menurut Ferry, Jokowi, sedang mumet alias pusing memikirkan elektabilitasnya yang turun. Ferry mengutip hasil survei Lembaga Media Survei Nasional (Median).

"Makanya Jokowi panik dan belakangan sering mengirim utusan dalam rangka penjajakan kemungkinan koalisi, termasuk menjajaki kemungkinan Pak Prabowo berpasangan. Sudah tidak ada yang mau lagi dengan orang yang elektabilitasnya hancur. Apalagi kalau soal ekonomi ini makin krisis, jangan-jangan belum tentu bisa bertahan sampai 2019," ujar dia.



Wakil Sekretaris PKB Daniel Johan, mengatakan, partainya tak masalah soal wacana ini. Namun, Johan khawatir rakyat kecewa terhadap duet tersebut. Sebab, jika duet Jokowi-Prabowo direalisasi, kemungkinan adanya calon tunggal cukup besar.

"Khawatir malah masyarakat kecewa bila calon tunggal dan bagaimana pula respons negara-negara sahabat di dunia," kata Daniel.
(rvk/ear)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed