DetikNews
Senin 23 April 2018, 22:22 WIB

Menkum HAM: Tembok Lapas bukan Penghalang Kreativitas

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Menkum HAM: Tembok Lapas bukan Penghalang Kreativitas IPAFest 2018 menampilkan seni tradisional dan kontemporer. (Marlinda Oktavia Erwanti/detikcom)
Jakarta - Kementerian Hukum dan HAM menggelar Indonesia Prison Art Festival (IPAFest) 2018 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Acara ini digelar untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa lembaga pemasyarakatan (lapas) bukan penghalang untuk berkreativitas.

"Mereka akan mengekspresikan karya seni di hadapan masyarakat untuk membuktikan bahwa walau tempat terbatas, tapi karya melintas tanpa batas dalam dunia realitas. Walaupun tempat terbatas, tapi kreativitas tidak boleh terbatas," ujar Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Yasonna Laoly, dalam sambutannya, di TIM, Jakarta Pusat, Senin (23/4/2018).

Menkum HAM menyampaikan sambutan di IPAFest 2018Menkum HAM menyampaikan sambutan di IPAFest 2018. (Marlinda Oktavia Erwanti/detikcom)

Dalam IPAFest 2018, akan ditampilkan seni teater, seni musik, seni tradisional, serta seni rupa. Dalam acara yang akan digelar dua hari ini, juga digelar festival kuliner, pameran arsip, talk show, dan pameran fotografi.


Yasonna mengatakan acara ini juga untuk menunjukkan tembok lapas dan rutan bukan penghalang untuk tetap menghasilkan kreativitas narapidana. Dalam lapas dan rutan, narapidana dan tahanan dimanusiakan.

"Diberikan kegiatan, pelatihan dipekerjakan difasilitasi minat dan bakatnya dan pada saatnya hasil mereka ditampilkan ke masyarakat melalui event-event yang dilakukan Ditjen PAS," kata Yasonna.

Galeri yang ditampilkan dalam IPAFest 2018Galeri yang ditampilkan dalam IPAFest 2018. (Marlinda Oktavia Erwanti/detikcom)

Festival yang diprakarsai Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) ini dibuat untuk membina napi agar tetap bermartabat, tangguh, dan berdaya saing. Festival ini juga sebagai momentum bahwa lapas menunjukkan perkembangan yang pesat.

"Bahkan dampak positifnya dapat dimaknai sebagai pencapaian dari penyamarataan revolusi mental. Yang di antaranya perubahan perilaku yang lebih baik, lebih berintegritas, dan menjadi anak bangsa yang membanggakan dan dapat berkontribusi bagi bangsa dan negara pada akhirnya jika mereka keluar dari lapas nantinya," tutur Yasonna.


IPAFest merupakan pergelaran yang diprakarsai Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kemenkum HAM sebagai puncak peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-54. Acara ini digelar pada 23-24 April 2018.

Pertunjukan digelar untuk menunjukkan lapas bukan penghalang kreativitasPertunjukan digelar untuk menunjukkan lapas bukan penghalang kreativitas. (Marlinda Oktavia Erwanti/detikcom)

Sekitar 450 narapidana dari 36 lapas/rutan se-Indonesia akan tampil dalam acara ini. Tak hanya menampilkan karya narapidana, IPAFest 2018 juga merupakan festival seni narapidana pertama di dunia.

Dalam event ini juga ditampilkan drama musikal bertajuk 'Merah Putih Narapidana, Kami Berkarya Maka Kami Ada' yang menyiratkan makna bahwa narapidana tetap warga negara Indonesia yang cinta Merah-Putih serta memiliki semangat untuk menjadi warga negara yang diakui eksistensinya. Hadir dalam acara ini Menko Polhukam Wiranto serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise.
(jbr/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed