Ritual Seba, Warga Baduy Cek Artefak Kesultanan Banten di Museum

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Sabtu, 21 Apr 2018 16:14 WIB
Foto: Bahtiar Rivai/detikcom
Foto: Bahtiar Rivai/detikcom
Kota Serang - Warga Baduy sedang menjalani ritual Seba, yang intinya warga keluar dari kampung untuk menyambung silaturahmi antara warga Baduy dan pemerintah. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mengunjungi museum.

Setahun sekali, dalam ritual Seba, mereka khususnya para baris kolot (orang tua) masyarakat adat Banten mengecek titipan sejarah di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.


Saat Warga Baduy Antusias Lihat Meriam di MuseumFoto: Bahtiar Rivai/detikcom

Beberapa artefak peninggalan, baik sejak sebelum dan saat masa kesultanan Banten, mereka periksa satu per satu. Begitu datang, mereka memperhatikan sekilas posisi meriam Ki Amuk yang terletak di luar gedung museum, memperhatikan arca, senjata tradisional yang berkembang tempo dulu jenis golok, klewang, keris, dan fragmen kapal masa Banten menjadi jalur rempah dan lada.

Kedatangan warga Baduy ke museum dipimpin oleh Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra. Ada juga Jaro Saija sebagai pemangku jabatan kepala desa adat yang tugasnya berurusan dengan pemerintah resmi. Ada ritual yang dilakukan sesaat setelah mengecek benda purbakala tersebut.

Selesai ritual, mereka kemudian satu per satu memakan sirih. Ada campuran sejenis kapur dan rempah yang membuat gigi terlihat merah.


Saat ke museum ini, mereka juga begitu tertarik dengan satu meriam diperkirakan masa kesultanan Banten. Nama meriam ini tidak disebutkan secara spesifik. Memiliki ukuran jauh lebih kecil daripada meriam Ki Amuk yang dipajang di halaman depan museum.

Saat Warga Baduy Antusias Lihat Meriam di MuseumFoto: Bahtiar Rivai/detikcom

Di atas meriam itu sendiri terdapat keterangan bahwa saat masa kesultanan, Banten memiliki nama-nama meriam yang diambil dari bahasa lokal. Ada meriam Ki Kalantaka, Ki Urangayu, Ki Jajaka Tua, dan Ki Jimat.

Warga Baduy yang berkumpul ke meriam ini juga antre untuk memegang ujung meriam. Mereka terlihat menggenggam meriam dengan cara masing-masing jari tengah dan jempol bersentuhan. Ada yang pas dan ada juga yang tidak bisa menggenggam.

Jaro Saija, yang ditanya soal ini, enggan bercerita banyak kenapa mereka begitu tertarik pada meriam ini. Tapi memang ada maksud khusus kenapa mereka harus memegang meriam tersebut.


Ia sendiri mengatakan kewajiban adat setahun sekali ke museum kepurbakalaan di kawasan Banten Lama adalah rangkaian dari Seba. Selain mengecek jika ada kerusakan, ada ritual yang dilakukan supaya masyarakat aman dan tenteram.

"Sebetulnya kalau ke sini itu kan yang setahun sekali wajib nempo (mengecek/melihat) takut yang ada kerusakan. Kedua harus ada ritual upacaranya beberes, takut ada keresahan masyarakat, supaya masyarakat tentrem, nyaman," katanya saat berbincang dengan detikcom, Kota Serang, Banten, Sabtu (21/4/2018).

Segala benda di museum ini menurutnya adalah titipan. Selain harus diperiksa, benda-benda tersebut harus diawasi keberadaannya. Sebab, menurutnya, prinsip Baduy adalah, jika gunung dilebur dan lembah dirusak, akan ada bencana di mana-mana. Begitu juga benda-benda titipan dari masa lalu.

"Itu bisa bencana dan lain-lain kalau tidak dijaga," ujarnya. (bri/tor)