DetikNews
Sabtu 21 April 2018, 10:07 WIB

Misteri Absennya Setya Novanto di Sidang Bimanesh

Dhani Irawan - detikNews
Misteri Absennya Setya Novanto di Sidang Bimanesh Setya Novanto yang disebut memberikan alasan aneh ketika tidak hadir dalam sidang Bimanesh Sutarjo. (Aditya Mardiastuti/detikcom)
Jakarta - Setya Novanto tidak hadir dalam persidangan lanjutan perkara perintangan penyidikan KPK dengan terdakwa Bimanesh Sutarjo. Novanto menyampaikan surat kepada jaksa KPK mengenai alasan ketidakhadirannya.

Dalam suratnya yang dibacakan jaksa, Novanto mengaku tengah menyiapkan duplik terkait perkaranya, yaitu kasus korupsi proyek e-KTP. Jaksa mengaku janggal atas alasan itu lantaran vonis Novanto akan dibacakan pada 24 April 2018.

"Di sini sudah kami kirim panggilan, akan tetapi saksi menuliskan menyampaikan kepada kami disampaikan persidangan mohon maaf tidak bisa menghadiri sidang karena mempersiapkan duplik untuk putusan yang sedang kami hadapi," ujar jaksa KPK M Takdir Suhan dalam sidang lanjutan terdakwa Bimanesh di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (20/4/2018).

Selepas sidang, Takdir merasa alasan Novanto janggal. Duplik merupakan tanggapan pihak terdakwa atau kuasa hukum terhadap replik. Untuk lebih jelasnya, begini urutannya: tuntutan, pleidoi, replik, kemudian duplik.

[Gambas:Video 20detik]


Tuntutan merupakan kewenangan jaksa dengan menjabarkan perbuatan terdakwa seperti dalam surat dakwaan serta tuntutan pidana sesuai dengan sangkaan. Terdakwa dapat membela diri melalui pleidoi. Apabila jaksa ingin menjawab pembelaan terdakwa itu, jaksa akan menyampaikan replik, kemudian dibalas lagi oleh terdakwa melalui duplik. Hal itu diatur dalam Pasal 182 KUHAP ayat 1 huruf a, b, dan c, yang bunyinya:

Pasal 182 ayat 1 KUHAP

a. Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, penuntut umum mengajukan tuntutan pidana;
b. Selanjutnya terdakwa dan atau penasihat hukum mengajukan pembelaannya yang dapat dijawab oleh penuntut umum, dengan ketentuan bahwa terdakwa atau penasihat hukum selalu mendapat giliran terakhir.
c. Tuntutan, pembelaan dan jawaban atas pembelaan dilakukan secara tertulis dan setelah dibacakan segera diserahkan kepada hakim ketua sidang dan turunannya kepada pihak yang berkepentingan.

Soal alasan pengajuan duplik Novanto tersebut, jaksa merasa aneh. Seperti apa keanehannya, begini penjelasannya:

Untuk tuntutan, jaksa telah menyampaikannya dalam sidang pada Kamis, 29 Maret lalu. Saat itu, Novanto dan tim kuasa hukumnya mengaku akan menyampaikan pleidoi atau nota pembelaan.

Kemudian, Novanto membacakan pleidoi pada 13 April 2018. Selain itu, tim kuasa hukum Novanto membacakan pleidoi. Saat itu, ketua majelis hakim Yanto mempersilakan jaksa memberikan tanggapan. Jaksa menyampaikannya secara lisan, kemudian dibalas kembali oleh tim kuasa hukum Novanto.

Setelah itu, kedua belah pihak menyatakan tidak akan memberikan tanggapan lagi sehingga majelis hakim memutuskan menunda persidangan dengan agenda pembacaan putusan, yaitu pada 24 April mendatang. Pembacaan putusan merupakan titik akhir dari rangkaian persidangan sehingga seharusnya tidak ada tanggapan dari jaksa atau terdakwa atau tim kuasa hukum atas putusan itu, kecuali upaya hukum di atasnya, seperti banding dan kasasi.


"Sebagaimana kita ketahui bahwa agenda putusan sudah disampaikan majelis hakim, itu adalah putusan. Sehingga tidak ada lagi baik itu tanggapan JPU, tim penasihat hukum itu semua sudah include itu agendanya adalah putusan. Sehingga kedua belah pihak tidak ada kesempatan lagi untuk menyampaikan tanggapan ataupun pembelaan," ucap jaksa M Takdir.

Bahkan pengacara Novanto, Maqdir Ismail, pun mengaku tidak tahu tentang alasan Novanto tersebut. Selain itu, Maqdir tidak tahu bahwa Novanto dipanggil untuk bersaksi dalam sidang Bimanesh itu.

"Tanggal 24 itu putusan. Saya tidak tahu kalau ada panggilan untuk bersaksi," ucap Maqdir.

Lalu, apa maksud Novanto dengan beralasan sedang menyiapkan duplik padahal akan divonis pekan depan?
(dhn/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed