DetikNews
Kamis 19 April 2018, 22:24 WIB

Upaya Penemuan WNI yang Hilang 28 Tahun Libatkan Pangeran Saudi

Ray Jordan - detikNews
Upaya Penemuan WNI yang Hilang 28 Tahun Libatkan Pangeran Saudi Nenek Qibtiyah yang hilang kontak 28 tahun akhirnya ditemukan. (Foto: dok. Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel)
Jakarta - Jumanti binti Bejo bin Nur Hadi alias Qibtiyah (74), berhasil ditemukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh, setelah menghilang selama 28 tahun di Arab Saudi. Seperti apa upaya penemuan Nenek Qibtiyah?

Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengatakan kabar mengenai hilangnya Qibtiyah dia terima lewat media sosial. Disebutkan bahwa nenek asal Bondowoso, Jawa Timur, tersebut pergi bekerja ke Arab Saudi dan hilang kontak dengan keluarga di Indonesia selama puluhan tahun.

"Nenek Qibtiyah putus kontak dengan keluarga di Indonesia selama 28 tahun. Dia datang pertama kali ke Arab Saudi pada 14 Agustus 1990," kata Maftuh kepada detikcom, Kamis (19/4/2018).


KBRI Riyadh langsung merespons kabar mengenai hilangnya Qibtiyah. Maftuh mengatakan pihaknya langsung melakukan pengecekan di database KBRI dan nama Qibtiyah tidak ditemukan.

"Hal ini dipastikan bahwa Nenek Qibtiyah, sejak datang ke Arab Saudi, tidak pernah mengajukan perpanjangan paspor sehingga iqomah (izin tinggal di Saudi) juga tidak terdeteksi," katanya.

Maftuh melanjutkan pelacakan kemudian dilakukan KBRI dengan menghubungi majikan (kafil) dan saudara-saudaranya untuk mencari titik terang keberadaan Nenek Qibtiyah. KBRI kemudian mendapatkan informasi bahwa Qibtiyah bekerja di rumah Nourah Mohammed al-Daerim di Kota Riyadh.

"Keberadaan Qibtiyah mulai ada titik terang ketika KBRI Riyadh berhasil mendapatkan nomor kontak kakak kandung majikan Qibtiyah bernama Abdulaziz Mohammed al-Daerim," ujarnya.

"Tim Perlindungan WNI langsung intensif melakukan penelusuran dengan menghubungi para WNI yang pernah berinteraksi dengan Qibtiyah Jumanah, dan salah satunya adalah Niayah binti Kasimin yang bekerja di kakak majikan Qibtiyah. Niayah, WNI asal Malang, menjadi sumber informasi strategis tentang keberadaan Qibtiyah," jelas Maftuh.


Maftuh mengatakan majikan dan kerabat setelah mengetahui bahwa KBRI melakukan pelacakan intensif terhadap Qibtiyah. Sayang, pihak majikan dan keluarga tidak kooperatif.

"Mereka berusaha menghambat dan tidak koperatif dengan memberikan informasi menyesatkan kepada tim KBRI bahwa Qibtiyah sudah dipulangkan ke Indonesia 3 bulan lalu," katanya.


Selanjutnya, kata Maftuh, pada 14 Maret 2018, KBRI Riyadh mengirimkan nota diplomatik ke Kemenlu Arab Saudi untuk meminta bantuan dalam menelusuri keberadaan Qibtiyah. Usaha ini belum membuahkan hasil, sehingga pada 27 Maret 2018 Agus Maftuh Abegebriel menyampaikan surat khusus kepada Gubernur Riyadh Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz al-Saud, yang juga keponakan Raja Salman, untuk meminta bantuan pencarian Qibtiyah.

"Gubernur Riyadh memerintahkan semua instansi di bawahnya untuk membantu KBRI Riyadh dalam menemukan Nenek Qibtiyah. Dan akhirnya pada tanggal 18 April 2018, nenek asal Bondowoso ini bisa ditemukan dan dijemput Tim Pelayanan WNI KBRI Riyadh untuk diproses hak-haknya dan kepulangannya ke Indonesia," urai Maftuh.
(jor/ams)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed