DetikNews
Kamis 19 April 2018, 15:57 WIB

Berisiko Dihukum Mati, Berapa Upah Kurir Narkoba di Selat Malaka?

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Berisiko Dihukum Mati, Berapa Upah Kurir Narkoba di Selat Malaka? Foto: Lamhot Aritonang/detikcom
Pekanbaru - Selat Malaka menjadi tempat transaksi pengiriman narkoba dari Malaysia ke perairan Indonesia. Sungguh menggiurkan upah para kurirnya. Sekali berhasil, bisa puluhan juta rupiah yang didapatkan.

"Kita pernah menangkap kurir narkoba yang membawa dari Selat Malaka ke pantai pesisir Riau. Kalau tidak salah, untuk membawa sabu di bawah 5 kg saja bisa menerima upah Rp 25 juta," kata Wadir Resnarkoba AKBP Andri Sudarmadi dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (19/4/2018).


Kurir narkoba juga melibatkan nelayan di perairan Riau. Bisa juga ada kurir yang menyewa kapal untuk menjemput langsung ke tengah laut.

"Kadang jaringan narkoba ini juga melibatkan nelayan untuk membawa narkoba. Tapi ada juga kurir yang menyewa kapal nelayan untuk menjemput narkoba," kata Andri.

Untuk membawa narkoba dari tengah laut ini, tugasnya harus mengantar sampai bibir pantai. Upah baru akan diberikan jika barang tersebut sudah sampai tujuan.

Begitu juga dari penerima di darat, yang akan membawa ke tempat kota tujuan. Mereka baru akan dibayar bila barang haram tersebut sudah diterima. Tapi, untuk menjemputnya, para kurir tetap diberi dana untuk transportasi dan akomodasi.

"Bayaran setiap kurir saling berbeda tergantung dari jumlah narkoba yang dibawanya," kata Andri.


Mereka yang terlibat sebagai kurir narkoba ini umumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Tak hanya itu, biasanya para kurir ini bisa dipakai oleh jaringan narkoba karena mereka pengguna narkoba.

"Umumnya kurir narkoba ini pengguna narkoba juga. Dari pengguna, karena tak punya kerjaan tetap, tentu tergiur akan upah untuk membawa narkoba," kata Andri.

Para kurir ini sangat menyadari risiko yang akan diterima bila tertangkap. Tak hanya ancaman penjara 20 tahun, vonis mati juga menunggu mereka.

"Ya mereka sadar kalau jadi kurir punya risiko seperti itu. Ya mungkin karena tak punya kerjaan tetap, upah yang diberikan juga lumayan, mereka siap menanggung segala risikonya," kata Andri.

Baca Juga: Buwas: Penyelundup Narkoba Musuh Negara, Habisi Saja

Polda Riau sendiri pernah menangkap kurir belum lama ini yang membawa 5 kg sabu dan 5.000 butir ekstasi. Salah satu kurirnya itu justru dikendalikan anaknya yang mendekam dalam penjara karena kasus narkoba.

"Jadi jaringan antarkurir ini dari situ ke situ juga. Yang kemarin barusan kita tangkap, justru seorang bapak yang dikendalikan oleh anaknya di dalam penjara," kata Andri.
(cha/tfq)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed