"Saya jadi polisi, tidak pernah pegang senjata api. Semua itu tergantung urgensinya. Kalau pegang pun dalam keadaan kalau saya mau latihan nembak saja," kata Arief kepada detikcom di kantornya, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (18/4/2018).
Arief menuturkan setiap polisi harus bisa menilai apakah dirinya benar-benar memerlukan senpi dalam tugas sehari-hari atau tidak. Arief menyebut ada oknum polisi yang ingin memegang senjata api hanya untuk gagah-gagahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masing-masing pribadi harus bisa nilai kepentingannya, urgensinya. Ada orang yang 'ah kalau nggak bawa senjata api, polisi, bagaimana gitu'. Untuk gagah-gagahan. Mindset itu yang harus diubah," ujar Arief.
Dia lalu bercerita pernah mengemban tugas di lingkungan reserse, yang pada umumnya akrab dengan penggunaan senjata api. Namun dia memilih untuk tidak bersenjata.
"Saya pernah Kasat Serse di Polres Sidoarjo. Selesai apel, diperiksa wakapolres kelengkapan senjata apinya. Kasat Sabhara pegang, Kasat Binmas pegang, kasat ini itu pegang, begitu sampai ke saya 'mana senpimu?'," ucap Arief menirukan percakapannya dengan Wakapolres saat masih menjadi Kasat Reskrim.
"Saya jawab 'saya nggak bawa senpi, Pak'. Malah dimarahi saya, 'kamu kasat serse malah nggak bawa senjata api', malah disuruh gitu. Saya nggak mau (bawa senjata api), 'ndak Pak, saya nggak perlu senjata api', 'lalu senjatamu apa?', 'ada anggota saya yang sudah pegang senjata. Kalau ada apa-apa biar anggota saya saja'," cerita Arief. (aud/hri)