Bila Din Tidak Dipilih Jadi Ketum Bisa Timbulkan Kekecewaan
Rabu, 06 Jul 2005 14:09 WIB
Malang -
Din Syamsuddin memperoleh suara tertinggi dalam pemilihan 13 anggota Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Tapi, masih ada kemungkinan Din tidak akan dipilih menjai ketua umum PP Muhammadiyah. Bila ini terjadi, hal ini bisa menimbulkan pertentangan. Penilaian ini disampaikan pengamat politik yang juga kader Muhammadiyah Bachtiar Effendy kepada wartawan di Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, Jl. Raya Tlogomas, Malang, Rabu (6/7/2005). Menurut Bachtiar, suara terbanyak yang diperoleh Din menunjukkan bahwa peserta muktamar mengharapkan Din terpilih sebagai ketua umum periode 2005-2010."Dasar pijaknya adalah Din memperoleh suara terbanyak. Kalau ini tidak dijadikan sebagai putusan, tentu nanti akan menimbulkan kekecewaan pada muktamirin," jelas dia. Menurut dia, pertentangan tersebut belum tentu terjadi saat ini. Namun, hal ini bisa saja terjadi sepanjang lima tahun periode kepengurusan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-45 ini. "Saya kira akan lebih bijaksana jika dalam sidang besok mereka akan memilih tokoh yang memperoleh suara terbanyak, kecuali jika Din tidak bersedia," kata Bachtiar.Memang di dalam keorganisasian Muhammadiyah tidak ada aturan yang menjelaskan calon yang memperoleh suara terbanyak otomatis menjadi ketua. Posisi ketua umum akan ditentukan melalui musyawarah ke-13 formatur PP Muhammadiyah yang beranggotakan 13 anggota PP, Kamis besok(7/7/2005)."Antisipasi bisa dirapatkan lagi. Itu kan untuk mengantisipasi kalau yang memperoleh suara terbanyak tidak bersedia, tapi kalau yang nomor satu bersedia tidak ada alasan untuk melakukan musyawarah untuk memilih tokoh-tokoh yang lebih sedikit daripada yang memperoleh suara yang terbanyak," kata dia. Pembeliaan Kepemimpinan Terpilihnya Din Syamsuddin yang masih relatif berusia muda, menurut Bachtiar, merupakan tanda bahwa peserta muktamar menghendaki seorang figur pemimpin dari kalangan muda. Meski begitu, perubahan pembeliaan kepemimpinan tersebut tidak bisa dilakukan secara drastis, semuanya harus dilakukan secara bertahap."Bagaimana pun tidak bisa kemudian tiba-tiba yang menduduki keseluruhan struktural kepengurusan Muhammadiyah muka-muka baru atau anak-anak muda," ungkap dia. Menurut dia, memang sudah ada isyarat untuk melakukan perubahan kepemimpinan dalam pengertian bahwa yang memimpin adalah tokoh-tokoh yang lebih dinamis dan enerjik. "Itu mungkin ada hubungannya dengan Muhammadiyah yang selama ini dipimpin oleh tokoh-tokoh senior," ujar dia.Din Syamsuddin memperoleh suara terbanyak dalam sidang pleno pemilihan anggota tetap PP Muhammadiyah, Selasa (5/7/2005). Din memperoleh 1.718 suara, disusul Haedar Nashir dengan 1.375 suara, dan Muhammad Muqoddas dengan 1.285 suara.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































