DetikNews
Selasa 17 April 2018, 17:12 WIB

Mabuk Berujung Maut: Dulu Opium, Kini Oplosan

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Mabuk Berujung Maut: Dulu Opium, Kini Oplosan Ilustrasi miras oplosan. Foto: Dony Indra Ramadhan
FOKUS BERITA: Maut Miras Oplosan
Jakarta - Polri merilis data bahwa sedikitnya 89 orang tewas akibat minuman keras (miras) oplosan di wilayah hukum Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Barat. Salah satu faktor seseorang menenggak oplosan disebut Polri adalah karena finansial.

"Kalau dari faktor ekonomi ada karena dengan harga katakanlah terjangkau karena Rp 10.000-Rp 20.000 mereka punya keuntungan yang luar biasa. Mereka istilahnya punya indukan alkohol itu ethanol alkohol atau methanol. Sayangnya methanol nggak boleh dikonsumsi. Orang mengatakan itu gingseng padahal itu bukan jamu gingseng padahal bukan," kata Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, di kantornya, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (13/4/2018).



Ia mengatakan pembeli miras oplosan rata-rata berusia 18-30 tahun tetapi tak menutup kemungkinan ada juga yang berusia hingga 56 tahun. Selain itu tujuan konsumen membeli miras oplosan adalah mabuk.

"Ya lah (tujuan mabuk). Mungkin mereka punya masalah. Manusia pasti kan ada masalah," kata Setyo.

Jika dilihat dari peristiwa yang terjadi belakangan ini, korban miras oplosan kebanyakan berasal dari masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Mereka minum oplosan, jika merujuk pada kesimpulan polisi, adalah untuk melepaskan penat.



Kondisi serupa mirip dengan apa yang terjadi di Pulau Jawa pada era kolonial dahulu. Namun saat itu yang dijadikan pelepas penat bukanlah oplosan, melainkan opium.

Opium kini dikenal sebagai narkoba dan dilarang peredarannya. Opium merupakan jenis narkotika yang diambil dari getah pohon candu yang belum matang.

Dalam buku Opium to Java yang ditulis oleh James R Rush, peredaran candu masuk ke Pulau Jawa karena dibawa oleh pedagang-pedagang asing pada abad ke-17. Pemerintah kolonial belanda kemudian menjadikan opium sebagai komoditas dan dikenai pajak.

Kala itu candu banyak dihisap oleh kalangan buruh karena efeknya yang bisa menimbulkan halusinasi dan menghilangkan rasa sakit. Sementara oleh kalangan atas, ada pula yang menyajikan opium kelas premium untuk tamu mereka.

Pemadat alias pecandu opium di era kolonial.Pemadat alias pecandu opium di era kolonial. Foto: Koleksi Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures via Wikimedia Commons


Kaum buruh di zaman kolonial kecanduan candu untuk mengobati pegal-pegal sekaligus menghilangkan stres. Tetapi pada akhirnya mereka menjadi ketergantungan dan menghabiskan banyak uang demi menghisap candu.

Pemerintah kolonial pada kepemimpinan Thomas Stanford Raffles, tahun 1811-1816, menempatkan pengusaha candu sebagai pakter alias penyewa usaha, sementara pemilik resmi adalah pemerintah. Hingga ketika Belanda kembali memimpin Hindia Belanda, mereka tetap menerapkan aturan tersebut.
(bag/fjp)
FOKUS BERITA: Maut Miras Oplosan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed