DetikNews
Jumat 13 April 2018, 08:13 WIB

Ular Kembali 'Teror' Jakarta, Apa Penyebabnya?

Niken Purnamasari - detikNews
Ular Kembali Teror Jakarta, Apa Penyebabnya? Piton 7 meter yang ditemukan di Jakpus. Foto: Dwi Andayani/detikcom
Jakarta - Kemunculan ular berukuran besar kembali 'meneror' ibu kota. Piton berukuran 7 meter itu berhasil ditangkap oleh petugas Sudin Damkar Jakarta Pusat. Sebenarnya bukan hanya kali ini saja ada kemunculan ular besar di Jakarta. Lantas, apa yang menjadi penyebab hewan reptil tersebut muncul?

Pakar ilmu lingkungan dari Universitas Sebelas Maret, Prabang Setyono menjelaskan kemunculan ular dekat dengan pemukiman warga di ibu kota menandakan adanya gangguan pada habitat asli mereka. Hal itu bisa disebabkan adanya kerusakan pada lingkungan maupun pencemaran.



"Ular itu adalah binatang yang perlu habitat. Ketika kemudian habitat tersingkir karena aktivitas manusia, pencemaran suara maupun aktivitas manusia lain, wajar kemudian mereka mencari habitat baru. Saya kira ini melihatnya secara lebih natural," jelas Prabang kepada detikcom, Kamis (12/4/2018).

Gangguan pada habitat mereka itulah yang membuat mereka bermunculan. Selain itu, perilaku ular yang berbeda dengan hewan liar lainnya juga membuat mereka memungkinkan untuk mendatangi habitat baru asal sesuai dengan kondisi kelembapan.

"Jakarta di daerah mana yang sekarang istilahnya tidak ada pencemaran. Dari situ sudah bisa ketebak. Jadi indikasi secara biologis. Bio indikator. Agen hayatinya ular dan bio indikatornya habitat ular sudah terganggu. Ular ini beda habitatnya dengan satwa liar lainnya. Perilaku ular memang di manapun bisa hidup yang penting posisinya lembab," kata Prabang.



Sebab itu, agar ular tetap pada habitat semestinya, Prabang mengatakan perlu adanya partisipasi dari masyarakat untuk menjaga lingkungan. Itu bertujuan supaya habitat mereka tidak terganggu.



"Sistemnya ular itu harus kita ciptakan agar mereka terkonsentrasi di tempat tertentu. Misal di sungai. Biar sungai natural secara alami. Jangan sungai yang dicor karena mereka jadi nggak punya tempat tinggal sebab sungai tersebut kondisinya panas. Mereka tidak bisa tinggal di tempat seperti itu," ujar Prabang.
(nkn/yas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed