Gua Jepang di Palembang, Bukti Sejarah yang Kini Tak Terurus

Raja Adil Siregar - detikNews
Senin, 09 Apr 2018 09:26 WIB
Gua Jepang di Palembang tak terurus (raja/detikcom)
Palembang - Kota Palembang menjadi salah satu kota yang pernah dijajah Jepang. Banyak bukti sejarah yang bisa dilihat, tetapi kini sudah tak lagi terawat. Kondisinya pun kian memprihatinkan.

Salah satu bukti sejarah itu adalah Gua Jepang. Lokasinya berada di Jalan AKBP H.Umar atau tepat di belakang pasar KM 5 Kota Palembang. Di atas lahan kosong sekitar 2 hektare itu, gua itu tampak masih berdiri kokoh.


Saat ini, tampak gua sudah dipenuhi rumput dan semak belukar karena tak ada perawatan. Pada bagian dalam terlihat gua dipenuhi sampah dan bau tak sedap.

Menurut cerita warga sekitar lokasi, gua itu dahulunya digunakan sebagai tempat persembunyian tentara Jepang. Bahkan disebut-sebut terhubung dengan pintu masuk di dekat RS Charitas dan Benteng Kuto Basak (BKB).

"Kalau cerita sejarah memang Gua di KM 5 ini terhubung langsung dengan pintu di Charitas dan BKB. Jaraknya sekitar 4 - 5 kilometer, tapi sekarang sudah tidak ada yang berani coba melintasi," kata salah satu warga, Adri saat berbincang dengan detikcom, Senin (9/4/2018).

Dilihat dari posisinya yang berada diatas bukti kecil di tengah padatnya penduduk, lokasi ini memang cocok sebagai pusat pertahanan dan tepat mengintai musuh. Bahkan sangat sulit untuk dipantau dari kejauhan.


Sayang gua yang memiliki dua pintu dan sebuah bunker itu sudah tak lagi terurus. Selain semak dan bau tak sedap, pada bagian dinding terdapat banyak coretan dari tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Pada bagian atap pun terlihat sengaja dilubangi warga sebagai pencahayaan Bunker dan lorong gua. Warga sekitar sebenarnya masih sering datang untuk sekedar berkunjung dan berfoto. Tetapi takut jika harus masuk ke dalam.

Meskipun tidak terlihat adanya barang-barang peninggalan Jepang di dalam gua, tetapi sekat-sekat kamar berukuran 2x3 meter tampak masih utuh.

Tentu tidak terurusnya gua saat ini harus menjadi tanggung jawab pemerintah dan warga setempat. Apalagi aset sejarah ini menjadi bukti kelamnya masa lampau sebelum Indonesia merdeka.

"Seharusnya ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Sayang kan, ini aset sejarah tetapi tidak dimanfaatkan, tidak dirawat dan hanya menjadi semak belukar begitu saja," sambung pria berusia 45 tahun ini. (asp/asp)