Cerita Moeldoko yang Pernah Diterapi 'Cuci Otak' dr Terawan

Nur Indah Fatmawati - detikNews
Sabtu, 07 Apr 2018 14:35 WIB
Foto: Nurin/detikcom
Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (purn) Moeldoko mengaku pernah berobat ke Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto. Bahkan, dia mengaku baru 3 minggu lalu menggunakan jasa dokter 'cuci otak' itu.

"Pernah (berobat ke dr Terawan). Baru terakhir 3 minggu yang lalu. Sudah dua kali saya," ungkap Moeldoko di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (7/4/2018).


Dia mengaku sempat bermasalah dengan keseimbangannya. Moeldoko menegaskan tidak ada yang ngawur dari metode dr Terawan, dan semuanya dilakukan secara ilmiah.

"Dilihat dulu indikatornya. Ada alatnya yang melihat indikator keseimbangan tubuh kita kurang. Di mana keseimbangan, (itu) dilihat lagi. Terapinya, jadi sesuatu yang bukan ngawur, bukan asal-asalan," kata dia.


Mengenai efeknya, Moeldoko menjawab sambil berkelakar. "Tambah ganteng kali ya. Tambah cerah," ujarnya diikuti tawa.

Moeldoko memastikan posisi dr Terawan sebagai Tim Medis Kepresidenan tetap aman walau telah dipecat Mahkamah Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pihak istana disebutnya memilah antara posisi dr Terawan sebagai personal dan Kepala RSPAD Gatot Subroto.

"Istana sangat membedakan dokter Terawan as a person dan dia sebagai kepala RSPAD. Sebagai rumah sakit rujukan, harus clear itu," ucap Moeldoko.

Selain Moeldoko, Presiden ke-6 RI Sudilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo, Aburizal Bakrie, Dave Laksono, dan Krishna Murti adalah sederet nama yang pernah menggunakan jasa Terawan.


Diketahui, sempat beredar surat yang menyebutkan pemecatan kepada dr Terawan dari keanggotaan IDI selama satu tahun akibat pelanggaran berat.

Dalam surat IDI tertanggal 23 Maret 2018, dr Terawan yang telah lama menerapkan metode pengobatan Digital Substraction Angiography (DSA) atau yang ramai dikatakan sebagai 'cuci otak' dalam manangani pasien stroke ini dinyatakan dipecat sementara sejak 26 Februari 2018. (nif/gbr)