DetikNews
Kamis 05 April 2018, 08:59 WIB

Aceh Timur: Terang di Kota, Gulita di Desa

Agus Setyadi - detikNews
Aceh Timur: Terang di Kota, Gulita di Desa Warga desa di Aceh Timur memakai teplok (agus/detikcom)
Aceh - Potret kehidupan di perkotaan dan pedalaman Aceh Timur, Aceh berbanding terbalik. Listrik di ibu kota kabupaten terang benderang dan lampu kerlap-kerlip di pasangan di sepanjang jalan. Sementara di empat desa di pedalaman, masih gelap gulita.

Seperti tampak di dua desa di Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Kondisi kehidupan masyarakat di sana masih jauh tertinggal. Di Desa Tampur Paloh, misalnya, baru beberapa rumah yang mempunyai listrik.

Masyarakat di sana menggunakan listrik dari genset. Itu pun hidupnya dari sore hingga pukul 23.00 WIB. Setelah itu, langsung menjadi gelap gulita.


Sebagian besar rumah di sana memang belum merasakan listrik sama sekali. Mereka hanya mengandalkan lampu teplok untuk penerangan. Anak-anak yang belajar pun harus terpaksa duduk di dalam gelap.

"Desa ini kalau tengah malam itu jadi gelap gulita apalagi setelah minyak genset habis.Tinggal di sini masih kayak zaman Belanda dululah. Kami masih pakai lampu teplok. Kadang-kadang ada rumah warga yang enggak pakai lampu, karena enggak sanggup beli minyak, sedih enggak. Seperti ibu-ibu yang janda kita bangunin kok enggak ada orang padahal ada di dalam tapi karena gelap," kata seorang masyarakat Tampur Paloh, Hasbi (50) saat ditemui Senin (4/4/2018).

Untuk memakai listrik tenaga genset, masyarakat harus membayar uang pembelian minyak. Warga yang menggunakan lampu saja dibebani biaya Rp 90 ribu/bulannya. Sementara bagi warga yang memiliki televisi membayar sebanyak Rp 150 ribu/bulan.


Berbeda dengan Tampur Paloh, warga Desa Melidi sudah berusaha membangun sendiri tenaga listrik mikrohidro secara swadaya. Untuk listriknya, mereka hidupkan mulai pukul 18.00 WIB hingga pagi hari. Itu pun, lampu yang menyala bisa dibilang redup.

Jika arus sedang tidak pas, maka listrik bisa saja mati tiba-tiba. Warga yang menggunakan listrik ini diharuskan membayar setiap bulan tergantung pemakaian.

"Listrik di sini ada sejak 2012 itu mikrohidro yang dibangun PNPM mandiri atas usulan masyarakat. Warga waktu itu meminta dibuat lampu. Mereka kemudian survei sumber air ada dua titik dan mereka pilih bangun pembangkit di seberang kampung," kata seorang tokoh desa, Melidi Ajisah (41).

Setelah listrik dibangun, pengelolaannya diserahkan ke masyarakat. Sesuai perjanjian awal, warga sebenarnya sepakat untuk setiap rumah mendapatkan 0,5 ampere. Namun banyak rumah tidak mengindahkan sehingga menggunakan hingga dua ampere.

"Belum ada reusam atau aturan tertulis mengenai pemakaian listrik. Untuk bayar setiap bulannya kalau pakai televisi Rp 35 ribu/bulan, lampu saja 20 ribu/bulan. Janda dan manula tidak dikutip kalaupun ada kemudahan diambil Rp 10 ribu," jelas Ajisah.

Kondisi dua desa ini berbanding jauh dengan kehidupan di tempat lain di Kabupaten Aceh Timur. Jalanan di depan Kantor Bupati kiri-kanannya terpasang lampu warna-warni. Lampu di sepanjang jalan juga terang benderang. Potret kehidupan di sana memang sangat kontras antara di pedalaman dengan tempat-tempat lain.

"Kami di sini beli minyak saja dengan harga Rp 10 ribu/liter untuk solar dan premium," ungkap Ajisah.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed