Tepis Prabowo, Ketum MUI: Jokowi Melawan Neolib!

Ray Jordan - detikNews
Senin, 02 Apr 2018 12:29 WIB
Ma'ruf Amin. Foto: Grandyos Zafna.
Jakarta - Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto juga menyinggung soal sistem ekonomi neolib di Indonesia. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin menanggapi pernyataan Prabowo tersebut.

Ma'ruf mengatakan sistem ekonomi neolib itu sudah lama dianut oleh Indonesia, bukan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

"Lah, siapa yang bikin ekonomi liberal itu, siapa? Yang meneorikan trickle down effect itu siapa? Jadi kan akibat ekonomi sekarang ini akibat dari trickle down effect, akhirnya diminta supaya nantinya netes ke bawah, ternyata kan tidak netes," ujar Ma'ruf Amin saat ditemui usai dirinya bertemu Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/4/2018).


Untuk itu, lanjut Ma'ruf Amin, pihaknya saat ini tengah gencar mengusung sistem 'arus baru ekonomi Indonesia'. Sistem ini diklaim Ma'ruf Amin direspons positif oleh Presiden Jokowi.

"Makanya kita, MUI mengusung isu arus baru ekonomi Indonesia, pemberdayaan ekonomi rakyat. Dan itu yang kemudian direspons Pak Jokowi. Jadi Pak Jokowi justru membangun ekonomi dari bawah, bukan dari atas. Yang dari atas itu dulu itu loh," katanya.

Dia juga menegaskan sistem ekonomi yang diusung Jokowi saat ini justru melawan sistem ekonomi neolib. "Ya itu betul itu sudah pas, sudah on the track menurut saya. Justru akibat ini akibat trickle down effect yang dulu itu. Kan justru Pak Jokowi melawan itu," katanya.


Prabowo saat berpidato di Gedung Serbaguna Istana Kana Cikampek, Sabtu (31/3) kemarin bicara soal sistem ekonomi yang dianut Indonesia. Dikatakan Prabowo, saat menjadi bagian dari rezim orde baru sempat tertarik pada faham neoliberalisme. Hal itu terjadi saat dirinya masih tergabung di Partai Golkar.

Di masa itu, pemerintah menggunakan pendekatan trickle down effect atau teori menetes ke bawah yang diperkenalkan Albert Otto Hirschman, pencetus faham Neoliberalisme.

"Saya dulu tertarik sama Neolib. Tapi saya lihat ternyata faham itu bohong. Kesejahteraan enggak netes-netes ke bawah. Malah dibawa ke luar negeri oleh elite," kata mantan menantu Presiden Soeharto itu.

"Satu keluarga menguasai jutaan hektare. Indonesia itu asas kekeluargaan bukan kapitalisme," imbuh Prabowo.

Sejak saat itu kata Prabowo, ia mulai tak suka kepada elite. Terutama elite Jakarta yang dia anggap kebanyakan adalah penipu. "Saya lihat muka elite Jakarta penuh tipu. Saya mantan komandan sejak muda. Saya terbiasa baca tampang anak buah hingga saya bisa tahu tampang penipu," katanya.

[Gambas:Video 20detik]

(jor/tor)