detikNews
Rabu 21 Maret 2018, 14:15 WIB

Harga Anjlok, Pemkab Muba Pakai Karet untuk Campuran Aspal

Raja Adil Siregar - detikNews
Harga Anjlok, Pemkab Muba Pakai Karet untuk Campuran Aspal Aspal campur plastik di Bekasi (edo/detikcom)
Musi Banyuasin - Menjadi provinsi penghasil karet terbesar di Indonesia sepertinya tidak berdampak pada kehidupan petani di Sumatera Selatan. Sebab, harga karet terus merosot

Untuk mengatasi persoalan itu, Pemkab Musi Banyuasin (Muba) melakukan terobosan dan inovasi dari bahan aspal bercampur karet. Hal ini dilakukan guna peningkatan harga ditingkat petani karet yang telah menyentuh Rp 3.000/Kg.

"Sebenarnya kami di Musi Banyuasin itu paling proaktif dan ini sebagai salah satu solusi dalam mengatasi anjloknya harga karet. Mengapa? Karena selama ini kita serahkan pada pangsa pasar. Untuk itu kami pemda harus hadir memberikan solusi melalui aspal campur karet," kata Plt Bupati Musi Banyuasin, Beni Hernedi saat ditemui di Hotel Santika Palembang, Rabu (21/3/2018).

Saat ini Musi Banyuasi menjadi kabupaten terbesar penghasil karet di Indonesia. Dengan luas lahan sekitar 400 ribu hektare. Bahkan labih dari 2.000 di antaranya telah dilakukan replanting batang karet.

Jika dikalkulasikan dengan potensi jalan seluas 1.900 KM, maka dapat dipastikan harga karet di tingkat petani akan mengalami kenaikan dan berada pada harga psikologis Rp 10.000/Kg.

"Potensi jalan kami saja 1.900 KM yang menjadi tanggung jawab Musi Banyuasin. Kalau biasanya untuk aspal pakai bahan eksport dari luar, kedepan harus dengan campuran karet dari petani kami. Jadi tak boleh lagi bergantung pada luar negeri semua," kata Beni.

"Dalam waktu dekat ini kami akan MOU dengan PT Jaya Trade Indonesia, salah satu perusahaan BUMD milik Pemda DKI Jakarta. Dalam waktu 3 bulan ini sudah terlihat hasil kesepakatannya dan akan langsung uji terap di beberapa jalan milik perusahaan," katanya lagi.

Jika hal ini telah disepakati, maka dapat dipastikan bahan baku aspal di Musi Banyuasin akan menggunakan komposisi SKAT dengan campuran 25 persen bahan baku karet. Sisanya akan menggunakan campuran ban bekas dan aspal murni.

Tidak hanya itu, Beni juga mengaku akan membuat peraturan khusus bagi setiap perusahaan untuk dapat menggunakan bahan baku aspal campur karet. Serta mengambil bahan baku karet dari petani lokal dengan kualitas terbaik.

"Saya mau karet itu dari petani kami, diproduksi di tempat kami dan dijual hasilnya ke luar. Jadi nanti akan kami upayakan bagaimana perusahaan itu juga beroperasi di Musi Banyuasin. Karena untuk meningkatkan harga petani karet itu yang paling utama," tutupnya.
(asp/asp)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com