DetikNews
Rabu 21 Maret 2018, 06:40 WIB

Prabowo Pidato 'RI Bubar 2030', Golkar: Stop Tebar Pesimistis!

Andhika Prasetia - detikNews
Prabowo Pidato RI Bubar 2030, Golkar: Stop Tebar Pesimistis! Foto: Ace Hasan Syadzily (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Partai Golongan Karya mempertanyakan data Indonesia bubar di tahun 2030 yang disampaikan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Golkar meminta Prabowo tak usah bersikap pesimistis.

"Darimana data tersebut? Jangan selalu menebar sikap yang pesimistis untuk bangsa ini. Tumbuhkan terus harapan yang optimistis untuk kemajuan bangsa," ujar Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily saat dimintai konfirmasi, Selasa (20/3/2018) malam.

Golkar menilai tahun 2030 Indonesia dapat menjadi 5 besar negara dengan ekonomi paling maju di dunia. Golkar optimis Indonesia bertaji di tahun 2030.

"Partai Golkar sendiri sangat sangat optimistik dengan masa depan bangsa pada tahun 2030. Kita punya Visi Negara Kesejahteraan 2045," jelas Ace.

[Gambas:Video 20detik]




Karena itu, Golkar meminta Prabowo berhenti menebar sikap pesimistis. "Jadi sebaiknya hentikanlah menebar sikap pesimis. Bangun generasi yang optimisme. Bangun bangsa ini bukan dengan retorika, tapi dengan karya dan kerja," papar Ace.

Sebelumnya, Gerindra mengunggah pidato Prabowo yang menyebut Indonesia akan bubar tahun 2030. Gerindra menyebut pendapat Prabowo berdasarkan kajian ahli dari luar negeri.

"Pak Prabowo menyampaikan bahwa ada pendapat di luar negeri oleh para ahli dikemukakan," kata Sekjen Gerindra Ahmad Muzani di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/3).


Berikut pidato Prabowo soal 'Indonesia bubar 2030':

Saudara-saudara!

Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030.

Bung!
Mereka ramalkan kita ini bubar, elite kita ini merasa bahwa 80 persen tanah seluruh negara dikuasai 1 persen rakyat kita, nggak apa-apa.

Bahwa hampir seluruh aset dikuasai 1 persen, nggak apa-apa.

Bahwa sebagian besar kekayaan kita diambil ke luar negeri tidak tinggal di Indonesia, tidak apa-apa.

Ini yang merusak bangsa kita, saudara-saudara sekalian!

Semakin pintar, semakin tinggi kedudukan, semakin curang! Semakin culas!Semakin maling!

Tidak enak kita bicara, tapi sudah tidak ada waktu untuk kita pura-pura lagi.
(dkp/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed