DetikNews
Senin 19 Maret 2018, 19:45 WIB

Cegah Kasus Skimming, Polisi Minta Bank Perketat Pengawasan ATM

Yulida Medistiara - detikNews
Cegah Kasus Skimming, Polisi Minta Bank Perketat Pengawasan ATM Foto: Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal. (Istimewa)
Jakarta - Polisi mengungkap beberapa kasus skimming ATM dilakukan Warga Negara Asing (WNA) pada akhir-akhir ini. Polisi meminta perbankan mengawasi ATM-nya dengan cara bekerja sama dengan pihak manajemen gedung jika ATM-nya terletak di ruang publik.

"Polri mendorong agar perbankan lebih aware terhadap cek dan kontrol bergandengan dengan manajemen public area yang lokasinya ditempati ATM. Juga perbankan kami dorong untuk meningkatkan secara teknis security teknis daripada ATM," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Mohammad Iqbal di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (19/3/2018).



Ia mengatakan pelaku biasanya mencari ATM yang jarang dikontrol oleh petugas. Ada pula pelaku yang mengincar ATM yang ada di tempat terpencil seperti di waralaba.

"Misalnya waralaba yang ada jangan hanya berorientasi kepada penjualan atau marketnya saja tapi lihat dong kalau ada orang yang lama di situ apalagi mencurigai tegor kan ada satpamnya. juga perbankan-perbankan yang meletakkan ATM-ATM yang ada di situ juga melakukan patroli dong. Kami bertugas domain untuk melakukan Kamtibnas patroli juga tapi kami tidak tahu teknis daripada ATM itu," kata Iqbal.



Ia mengatakan modus skimming telah terjadi pada 2016 lalu, kemudian 2017 tenggelam dan muncul lagi di tahun ini. Menurutnya para pelaku mempelajari sistem keamanan perbankan untuk meretas dan melakukan kejahatan.

Ia mengatakan salah satu tempat paling banyak adanya kejahatan skimming terjadi di tempat wisata.

"Ya salah satunya kan (di tempat wisata) pelakunya dari WNA. Jadi tempat yang berpotensi perputaran uang. Tapi di tahun 2016 pelaku yang diungkap itu pelakunya WNI. Artinya pelaku cenderung yang mencari celah bagaimana teknologi bisa direkayasa mereka terus mempelajari itu. Motifnya ekonomi," kata Iqbal.
(yld/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed