DetikNews
Minggu 18 Maret 2018, 23:45 WIB

Guillotine, Alat Pancung Prancis yang Dimanfaatkan Hitler-Nazi

Aryo Bhawono - detikNews
Guillotine, Alat Pancung Prancis yang Dimanfaatkan Hitler-Nazi Foto: Ilustrasi guillotine (detikcom)
Jakarta - Fernand Meyssonnier punya sebuah kisah ketika masih tinggal di Aljazair. Pada suatu hari ia merasa tak enak badan melihat darah mengucur dari tangan temannya. Lelaki itu mencoba menghidupkan mobil dengan sebuah tongkat tapi malah merobek tangannya sendiri. Fernand tak tahan melihat darah mengalir dari luka itu.

"Saya menanyakan kepada dokter, apakah ada yang salah dengan saya. Dokter itu bilang, Anda hanya tidak terbiasa dengan itu (melihat darah)," kenangnya.

Sang dokter tak tahu kala itu Fernand bekerja sebagai algojo eksekusi mati menggunakan guillotine. Ia sudah sangat terbiasa dengan ceceran darah, suara tulang leher yang putus, hingga menenteng kepala terpidana mati. Namun darah dari seseorang yang dikenal bisa bermakna lain baginya.


Fernand adalah eksekutor guillotine terakhir. Kontributor radio BBC London, Hugh Schofield, menemui Fernand pada 2002 lalu di kediamannya Desa Fontaine de Vaucluse, Prancis. Usianya sudah 72 tahun dan tengah mengidap penyakit kanker. Liputan BBC ini dimuat dalam buku From Our Own Correspondent: A Celebration of Fifty Years of the BBC Radio Programme.

Profesi sebagai pemancung guillotine diwarisi Fernand dari ayahnya Maurice Meyssonier, pemilik bar tempat berkumpul orang-orang komunis di Aljazair. Negara di benua Afrika itu itu masih berada dalam kekuasaan Prancis saat Perang Dunia (PD) II berakhir. Maurice merupakan kepala eksekusi pada 1947.

Ayahnya menerima tugas dari kantor kejaksaan. Mereka kemudian mengepak perlengkapan guillotine ke dalam kotak dan memuatnya dalam kereta menuju penjara di Aljazair, Oran ataupun Constantine.

Sedangkan kakek Fernand adalah Henri Roch, kepala eksekusi sebelum PD II. Darah eksekutor guillotine, kata Fernand, sudah mengalir dalam keluarga Meyssonier.

Fernand sendiri memulai pekerjaan itu sejak berusia 21 tahun pada 1947. Awalnya ia hanya menjabat sebagai asisten junior dengan tugas mengikat pergelangan kaki dan paha terpidana yang akan dieksekusi. Posisi terpidana mati menelungkup dan tangan diborgol ke belakang, posisi ini membuat kepala menjulur sehingga memudahkan pemancungan dengan guillotine.

Jabatan Fernand meningkat menjadi asisten pertama dengan tugas memegang kepala terpidana mati dari depan dan mengarahkan jatuhnya kepala ke dalam sebuah keranjang yang biasa disebut 'demi-lunette'. Pekerjaan ini tak mudah, ia harus memastikan terpidana mati tak menengok. Jika tidak, pisau guillotinemengenai rahang dan pekerjaan harus diselesaikan dengan pisau jagal.


Tanpa pisau jagal-pun pemandangan mengerikan selalu terjadi ketika pemancungan. Sekitar dua gelas darah muncrat dari leher yang terpotong sejauh tiga meter. Saat itu jantung masih memompa darah ke otak.

Walau terdengar sadis, guillotine diyakini sebagai mesin pemancung paling sempurna. Terpidana mati hanya perlu mengantre sebentar untuk eksekusi. Dalam 20 detik, dua orang dapat dipancung dengan alat yang sama. Saat perang Prancis-Aljazair, Fernand mengeksekusi dengan guillotine sebanyak 5-6 terpidana dalam sebulan, sepanjang kariernya ia sudah memenggal 200 kepala.

Guillotine sendiri diciptakan dengan tujuan untuk menyamakan hukuman mati pada seluruh terpidana mati di Prancis setelah masa revolusi.

Situs history.com menyebutkan pada 1791 Majelis Nasional Perancis memperdebatkan kesamaan eksekusi hukuman mati terhadap seluruh terpidana mati sebagai wujud persamaan hak.

Sebelumnya hukuman mati dengan cara pancung hanya diperuntukkan orang terhormat dengan maksud memberikan kematian secara cepat dan mengurangi rasa sakit. Sedangkan penjahat kriminal dieksekusi mati dengan cara digantung atau dibakar.


Seorang dokter sekaligus politisi, Joseph-Ingnace Guillotine menawarkan konsep eksekusi dengan mesin, yang kemudian dikenal sebagai guillotine. Ia menyebutkan gouletine memancung secepat kilat. Desain alat ini-pun lantas dikerjakan ahli bedah, Antoine Louis, dan dibuat pembuat piano, Tobias Schmidtt.

Pembuatan guillotine didukung oleh Charles-Henry Sanson. Ia mengeluhkan pedang yang digunakan untuk memancung terus mengalami penumpulan dan susah menemukan pemancung profesional. Alat ini akan mempermudah tugasnya mengeksekusi hukuman mati.

Eksekusi menggunakan guillotine pertama dilakukan pada seorang terpidana mati kasus pencurian dan pembunuhan, Nicolas-Jacques Pelletier, dan berlangsung dengan sukses. Guillotine pun menjadi alat resmi eksekusi mati di seluruh kekuasaan Paris.


Di Jerman, Adolf Hitler pun disebut memanfaatkan alat tersebut untuk mengeksekusi lawan politik dan siapa saja yang dianggap membangkang. Catatan Nazi menyebutkan sekitar 16.500 orang telah dieksekusi dengan guillotine antara 1933 hingga 1945.

Pekerjaan sebagai eksekutor guillotine bukan profesi tanpa hambatan psikologis. Salah seorang eksekutor guillotine, Louis Deblier merasa pikirannya terganggu sejak mengeksekusi seorang terpidana perempuan. Perempuan itu mengiba ketika menyibakkan bahunya di depan Deblier dan mengundang rasa iba.

Apalagi Deblier pernah melakukan penelitian kecil dengan memberikan sebuah tindakan kepada sebuah kepala yang sudah terpenggal. Hasilnya, kepala itu masih memberikan respons selama beberapa saat. Kepala yang terputus itu masih bisa mendengar kerumunan masa dan melihat guillotine yang memancungnya.


Puncak gangguan psikologis ini dialaminya ketika tangannya terciprat darah, ia diperkirakan mengalami fobia darah. Diblier menggosok kulitnya dengan cara berlebihan ketika mencuci tangan. Dan setiap saat ke gereja, ia selalu menggunakan sarung tangan dengan maksud tidak mengotori tempat suci dengan darah yang meresap di tangannya.

Eksekusi dengan guillotine sendiri terakhir dilakukan pada 1977. Prancis mengeksekusi terpidana pembunuhan berkebangsaan Tunisia, Hamida Djandoubi. Setelah tahun itu tak ada lagi pemancungan dengan guillotine hingga Prancis menerapkan abolisi pada 1980-an.

Gangguan Deblier tak dialami oleh Fernand. Dia masih menyimpan miniatur guillotine yang diberikan ayahnya saat masih berusia 15 tahun dalam kotak kaca. Dua ekor burung beo bertengger di rumahnya, Fernand melatihnya dengan siulan lagu mars Marseillaise dan Internationale. Usai siulan lagu, mereka-pun berbicara, "Tout condamne a mort aura la tete tranche. Vive Meyssonier!!! (Semua yang dijatuhi hukuman mati akan dipotong kepalanya. Hidup Meyssonnier!!!)".
(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed