Muncul Lagi Jelang Pilpres, Elektabilitas Mahfud MD Masih Nol Koma

Elza Astari Retaduari - detikNews
Jumat, 16 Mar 2018 20:39 WIB
Mahfud MD (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Nama Mahfud MD kembali menanjak menjelang Pilpres 2019. Namun, meski sudah banyak disebut sebagai kandidat cawapres, elektabilitas Mahfud masih berada di bawah angka 1 persen.

Mahfud berada di urutan kedelapan bursa cawapres berdasarkan hasil survei Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 27 Januari-3 Februari 2018. Dari kalangan santri, dia berada di bawah Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Khofifah Indarparawansa.

Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini kurang-lebih 2,83%.

Pada survei top mind atau yang dipilih secara spontan (pertanyaan terbuka), ada 25 kandidat cawapres yang banyak disebut. Elektabilitas paling tinggi diraih oleh Wapres Jusuf Kalla (JK) dengan perolehan 15%.


Nama Cak Imin teratas di kalangan santri dengan berada di posisi ke-4 dari 25 kandidat cawapres. Cak Imin mendapat perolehan 3,7%. Kemudian menyusul mantan Mensos yang kini maju sebagai cagub Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dengan perolehan 2,4%. Selanjutnya ada Mahfud MD dengan perolehan 0,9%. Mahfud sendiri saat ini merupakan Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Sejumlah partai sudah bersuara soal munculnya nama Mahfud MD. Salah satu partai pendukung petahana Presiden Joko Widodo, PPP, bahkan menyambut baik itu.

"PPP memang sudah lirik-lirikan, sudah ketawa-ketawaan sama Pak Mahfud. Jadi kan kami itu PPP tidak bicara orang. Bicara kriteria," ujar Sekjen PPP Arsul Sani di gedung DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/3).

Ternyata isu soal Mahfud menjadi kandidat cawapres bagi Jokowi ternyata bukan isapan jempol belaka. Dia mengaku sudah menjalin komunikasi politik dengan parpol pengusung Jokowi terkait pembahasan Pilpres 2019.


"Komunikasi informal tentu saja ada," kata Mahfud di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3).

Namun ia tak mau terlalu percaya diri soal pengusungan dirinya sebagai cawapres Jokowi di Pilpres 2019. Mahfud menyatakan ia sebenarnya tidak terlalu menginginkan posisi tersebut.

"Alhamdulillah ya masuk, karena saya tidak pernah ingin. Tapi saya juga tidak katakan tidak mau, karena nggak mau sombong," jelas akademisi yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

'Comeback'-nya Mahfud ini turut dikomentari oleh Gerindra. Apalagi kini Mahfud disebut-sebut akan merapat ke kubu Jokowi, lawan bagi Ketum Gerindra Prabowo Subianto untuk running di Pilpres 2019.


Gerindra mengungkit Pilpres 2014, ketika Mahfud berada di barisan Prabowo. Itu terjadi setelah Mahfud gagal dicalonkan PKB dalam Pilpres 2014. PKB ketika itu akhirnya mengusung Jokowi dan Jusuf Kalla (JK).

"Dulu Pak Mahfud, ketika menjadi ketua tim pemenangan Prabowo 2014, saya kira kita juga semua sudah tahu," sebut Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, Kamis (15/3).

Meski begitu, Gerindra menyatakan hingga saat ini Prabowo tetap berhubungan baik dengan Mahfud. Namun Muzani memaklumi apabila kini Mahfud mengalihkan dukungan karena namanya dipertimbangkan sebagai pendamping Jokowi.

"Hubungan Pak Mahfud dengan Prabowo juga baik. Kalau kemudian karena sesuatu, Pak Mahfud (cawapres) saya kira wajar saja," imbuh anggota Komisi I DPR itu. (elz/rna)