Anies: Tanah di Jakarta Turun 7 Cm per Tahun

Indra Komara - detikNews
Jumat, 16 Mar 2018 14:59 WIB
Foto: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat sidak gedung (Indra-detikcom)
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyoroti kerusakan lingkungan yang terjadi di Jakarta. Dia mendapat laporan bahwa tanah di Jakarta setiap tahunnya turun sekitar 7 cm.

"Kota Jakarta ini di dalam catatan dari Pusat hidrografi dan oceanografi disampaikan kemarin sore bahwa tinggi permukaan tanah kita menurun 7 cm per tahun. Dan di beberapa wilayah pesisir utara penurunannya sampai 20 cm per tahun. Dan mungkin ada varian-varian angka di tempat lain," kata Anies di Intiland Tower, Jl Jend Sudirman 32, Jakarta Pusat, Jumat (16/3/2018).



Anies menganggap turunnya tanah di Jakarta bukan hanya karena fenomena alam. Anies menyoroti rusaknya lingkungan di Jakarta khususnya air tanah juga karena ulah warga yang tinggal di Jakarta.

"Ini tidak bisa kita anggap semata-mata sebagai fenomena alam. Ini aalah akibat dari perbuatan kita, semua warga manusia yang tinggal di ibu kota ini," ujarnya.

"Karenanya kita harus ambil langkah untuk memperbaiki dan mengkoreksi," sambung Anies.



Untuk menyetop tergerusnya tanah di Jakarta Anies bersama tim pengawas terpadu yang dibentuknya dari beberapa dinas terkait melakukan razia sumur resapan hingga instalasi pengelolaan limbah terhadap gedung di Sudirman-Thamrin. Targetnya, dalam waktu dua minggu sejak tanggal 12 sampai 21 Maret 2018 ada 80 gedung yang akan dicek.

"Jumlahnya ada 5 tim yang kemudian kalau dijumlah keseluruhan ada sekitar 50-an. 50 orang ini mewakili 10 juta penduduk di Jakarta yang mengharapkan Jakatya airnya digunakan lebih baik," jelasnya.

Anies meminta kepada seluruh tim pengawas untuk bekerja profesional. Dia ingin antara tim pengawas tidak ada toleransi jika ditemukan pemilik gedung yang melanggar aturan.


"Saya ingin semua memastikan bahwa semua temuan di lapangan diperiksa sedetail-detailnya, tidak sedikitpun melakukan kompromi, tidak sedikitpun melakukan toleransi, karena salah satu masalah yang muncul adalah ketika penyimpangan, ketidaksesuaian ditoleransi, saat kita membiarkan itu sama dengan mengizinkan," imbuhnya.

Sampai per tanggal 15 Maret kemarin, baru 40 yang sudah diperiksa. Hasil sementara 9 gedung ditemukan melakukan pelanggaran karena tidak memiliki sumur resapan. (idn/rvk)