DetikNews
Selasa 13 Maret 2018, 22:14 WIB

MA Nonaktifkan Hakim PN Tangerang yang Jadi Tersangka Suap

Haris Fadhil - detikNews
MA Nonaktifkan Hakim PN Tangerang yang Jadi Tersangka Suap Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Jakarta -

Mahkamah Agung (MA) akan memberhentikan sementara hakim PN Tangerang, Wahyu Widya Nurfitri, karena menjadi tersangka dugaan suap. Jika terbukti bersalah, Wahyu akan diberhentikan secara tetap.

"Siapa pun yang kena OTT langsung kita SK-kan berhentikan sementara dibayar 50 persen gaji pokok sampai ada putusan berkekuatan hukum tetap. Jika terbukti, setelah putusan kekuatan hukum tetap langsung kita berhentikan tetap. Namun kalau nggak terbukti, kita rehabilitasi," kata Ketua Muda MA Bidang Pengawasan hakim agung Sunarto di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (13/3/2018).



Selain itu, dia menyatakan MA telah memanggil atasan langsung hakim dan panitera pengganti PN Tangerang yang ditangkap KPK. Pihak yang dipanggil adalah Ketua PN Tangerang dan panitera PN Tangerang.

"Jadi ini berjenjang, kalau ini hakim tingkat pertama maka yang kami periksa tadi pagi adalah ketua pengadilannya. Karena melibatkan panitera pengganti, yang tadi kami periksa paniteranya. Atasan langsungnya itu, pengawasan cukup bagaimana sewajarnya dan memang sudah ada pembinaan sudah rutin hampir 2 minggu sekali," ujar Sunarto.



Menurut Sunarto, kasus suap pada oknum di pengadilan masih terjadi karena karakter yang tidak mengenal rasa takut. Para oknum yang ditangkap hanya malu saat diekspos media.

"Kita kembali pada karakter. Mereka tipe yang tidak ada rasa takut yang ada rasa malu sama wartawan. Kalau belum takut sama Tuhan, paling tidak takut sama wartawanlah. Malu sama wartawan sehingga mereka kalau ada kasus gini yang tidak pakai kacamata jadi pakai, yang tidak flu pakai masker. Takut diekspos, kalau takut sama Tuhan akan berjalan aman," ujarnya.

MA, menurut Sunarto, sudah melakukan pencegahan, meski tidak bisa melakukan penyadapan terhadap panitera dan hakim. Menurut Sunarto, saat ini di MA sudah dilakukan pelayanan terpadu satu pintu untuk mencegah komunikasi antara hakim dan pihak beperkara, hingga mengirimkan mistery shopper ke pengadilan.

"Rasanya ingin marah, mau marah sama siapa kami juga sama dengan Bapak dan saya sampaikan kenapa sih tidak disadap HP kami tidak punya kewenangan untuk menyadap seperti yang diberikan kepada KPK, Polri intelijen," jelasnya.

KPK sebelumnya menetapkan hakim dan panitera pengganti Pengadilan Negeri Tangerang, Wahyu Widya Nurfitri dan Tuti Atika, sebagai tersangka. Keduanya disebut menerima suap terkait gugatan perdata wanprestasi.

Suap diduga diberikan dari Agus Winarto dan Saipudin, yang disebut sebagai advokat. Mereka memberikan suap kepada Wahyu terkait gugatan perdata perkara wanprestasi. KPK menyebut commitment fee terkait pengurusan itu sebesar Rp 30 juta.


(haf/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed