DetikNews
Kamis 08 Maret 2018, 13:26 WIB

KPK Geledah Rumah Terkait Suap Walkot Kendari, Ada Uang Disita

Nur Indah Fatmawati, Sitti Harlina - detikNews
KPK Geledah Rumah Terkait Suap Walkot Kendari, Ada Uang Disita Gedung KPK (Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta - KPK melakukan penggeledahan di Kendari berkaitan dengan kasus suap yang menjerat Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra. Dalam penggeledahan itu, disebut ada uang yang disita.

"Ada kegiatan pemeriksaan dan penggeledahan yang dilakukan (terkait kasus Wali Kota Kendari)," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Kamis (8/3/2018).

Kegiatan ini sudah berlangsung selama beberapa hari di Kendari. Febri belum menyebutkan apa saja yang didapatkan dari penggeledahan itu.


"Tim masih di lapangan untuk proses penyidikan kasus di Kendari tersebut. Nanti ketika tim sudah kembali, kami akan sampaikan lagi update-nya," ujar Febri

Selain itu, ada 5 saksi dari unsur swasta yang diperiksa hari ini bertempat di Polda Sulawesi Tenggara. Febri berkata pemeriksaan saksi dilakukan untuk mengonfirmasi beberapa informasi baru terkait kasus ini.

"Penyidik menelusuri pergerakan uang setelah ditarik dari bank, dibawa mobil ke jalanan di lokasi hutan di Kendari dan sejumlah tempat," ujar Febri.

"Penyidik juga menelusuri asal-usul uang selain Rp 1,5 miliar yang ditarik dari bank tersebut. Karena dugaan penerimaan adalah Rp 2,8 miliar," ungkapnya.

Dalam kasus ini, KPK memang menduga adanya transaksi uang hingga Rp 2,8 miliar. Uang itu dimintakan Adriatma dari Dirut PT Sarana Bangun Nusantara (SBN) Hasmun Hamzah untuk bantuan kampanye ayahnya, cagub Sultra Asrun. Asrun juga merupakan Wali Kota Kendari 2 periode, 2007-2017.


Hasmun kemudian memerintahkan anak buahnya menarik Rp 1,5 miliar dari rekening pengusaha itu. Selain itu, ia menyebut di kas Hasmun ada Rp 1,3 miliar yang telah disiapkan untuk Adriatma.

Tetapi hingga kini belum ada uang tunai yang diamankan KPK dari operasi tangkap tangan (OTT) yang menjaring ketiganya. KPK hanya mendapati bukti buku tabungan berisi penarikan uang Rp 1,5 miliar.

KPK kemudian menetapkan ketiganya beserta mantan Kepala BKSAD Kendari Fatmawati Faqih sebagai tersangka. Peran Fatmawati ini diungkap sebagai orang kepercayaan Asrun yang menjalin komunikasi dengan pengusaha.

Uang Disita dari Penggeledahan KPK


Sejumlah uang disita tim KPK dari penggeledahan di Kendari. Namun jumlah uang tersebut belum diketahui.

"Iya ada barang bukti yang diamankan, termasuk barang bukti uang. Jumlahnya silakan konfirmasi ke Humas KPK," ujar Kabid Humas Polda Sultra AKBP Sunarto.

Uang itu ditemukan di rumah salah seorang warga di Kelurahan Lepo-lepo, Kecamatan Baruga. Dari pantauan, uang itu dibawa menggunakan 2 mobil.
(dhn/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed