DetikNews
Rabu 07 Maret 2018, 17:29 WIB

Menkominfo Cerita Sulitnya Tindak Akun Medsos Bermasalah

Audrey Santoso - detikNews
Menkominfo Cerita Sulitnya Tindak Akun Medsos Bermasalah Foto: Menkominfo Rudiantara bicara penanganan hoax di Rakernis Bareskrim Polri. (Kanavino-detikcom)
Jakarta - Menkominfo Rudiantara menceritakan sulitnya menangani akun-akun media sosial dan aplikasi pesan yang bermasalah. Akun atau situs baru muncul lagi meski pemblokiran terus dilakukan.

Rudiantara menyampaikan itu terkait penanganan hoax dalam Rakernis Bareskrim Polri di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (7/3/2018). Dia membagi dunia maya menjadi tiga yaitu situs, media sosial seperti Facebook dan Instagram, serta aplikasi percakapan seperti WhatsApp dan lainnya.

"Sebetulnya isu kita di media sosial. Kalau di situs cepat diatasi tapi di situs itu seperti motto 'esa hilang, dua terbilang', terutama pornografi. Di kita nggak boleh, di mereka industri. Kita nggak usah munafiklah mungkin di ruangan ini ada yg pernah browsing, googling atau masuk situs porno.Kita blok hari ini 10, muncul 100," kata Rudiantara.


Rudiantara mengatakan menangani situs bermasalah lebih mudah karena Pemerintah memiliki mesin pengais situs. Dengan memasukkan kata kunci saja, mesin akan mendeteksi hal-hal yang berkaitan dengan kata kunci. Setelah itu, situs diblokir.

"Itu cepat. Sampai akhir tahun lalu 800 ribu situs kita blok. Dalam waktu dua minggu pertama ada 70 ribu yang kena kita kais dan blok. Tapi ini situs. Kalau media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan sebagainya itu tidak di Indonesia platformnya. Kita tidak memiliki kemampuan seperti di situs," jelas Rudiantara.

Rudi menjelaskan jika ada laporan masyarakat tentang suatu akun yang membahayakan dan sarat pelanggaran hukum, Rudi akan mengecek dan berkoordinasi dengan Polri. Polri terkadang melarang Kominfo memblokir dengan alasan akan ditelusuri terlebih dahulu sumbernya.

"Isinya adu domba, bertentangan dengan undang-undang di Indonesia saja, itu kami cek dan biasanya kami koordinasi dengan Polri kalau ada temuan seperti itu dan minta suspend akunnya, takedown akunnya. Biasanya teman-teman polisi bilang jangan diblok, biar ditelusuri dulu," terang Rudiantara.

"Tapi kalau tidak ada (penyelidikan di kepolisian, red), kami minta langsung ke platfrom untuk melakukan pemblokiran," sambung dia.

Menkominfo Cerita Sulitnya Tindak Akun Medsos BermasalahFoto: Menkominfo Rudiantara bicara penanganan hoax di Rakernis Bareskrim Polri. (Kanavino-detikcom)

Rudiantara kemudian menyampaikan dalam teknis pemblokiran akun media sosial atau akun di aplikasi pesan, Kominfo sempat mendapat kendala yaitu permintaannya kepada si pengelola aplikasi tak dipenuhi seluruhnya.

"Nah pemblokiran ini kadang-kadang kooperatif, kadang tidak kooperatif. Dari tahun ke tahun kita ada statistiknya, kita lihat Facebook, Instagram tahun 2016 request (untuk pemblokiran akun) kita ada 501, dipenuhi 249. Jadi rata-ratanya 50 persen. 2017 lebih membaik dari 806 request, fullfil 529," ucap dia.

Rudiantara mengungkapkan kendala pemblokiran akun bermasalah biasanya karena di negara asal aplikasi itu dibuat, berlaku sistem hukum yang mengharuskan digelar peradilan untuk menentukan benar atau tidaknya tudingan atas akun tersebut.

"Paling banyak alasannya masalah undang-undang, mereka itu mengatakan takedown akun harus proses pengadilan. Saya bilang iya di negara Anda itu literasinya sudah tinggi. Jangan samakan masyarakat Amerika dengan Indonesia. Dan ini saya Pemerintah, mewakili kepentingan publik," pungkasnya.


Ditambahkannya, sembilan media sosial telah sepakat dengan aturan pemblokiran akun di Indonesia.

"9 media sosial sudah buat deklarasi akan ikut mengamankan. Karena saya sengaja bilang kalau anda (pemilik aplikasi media sosial, red) nggak ikut, maka saya akan kejar karena dalam undang-undang ITE ada dua kata 'turut-serta'. Kalau anda nggak mau ikut, anda berarti turut serta mengacaukan Indonesia. Akhirnya mereka 'ya sudah begitu saja, Pak'," tuturnya.


(aud/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed