Warga Tolak Bangun Tol Karena Makam Keramat, Ada 2 Opsi Ditawarkan

Tsarina Maharani - detikNews
Rabu, 07 Mar 2018 05:38 WIB
Makam keramat di wilayah proyek Tol Serpong-Balaraja (Foto: Ahmad Bilwahid/detikcom)
Jakarta - Rencana pembangunan Jalan Tol Serpong-Balaraja ditolak warga sekitar lantaran melintasi makam yang diyakini keramat. Dirut PT Transbumi Serbaraja Kris Ade Sudiyono menyebut, ada dua solusi yang akan ditawarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Itu biasanya dari teman-teman Kementerian PUPR apakah akan dipindahkan (makamnya) atau digeser (rute tol-nya)," kata Ade saat dihubungi, Selasa (6/3/2018).

Namun, ia menyatakan belum ada kepastian solusi apa yang akan diterapkan. PT Transbumi Serbaraja selaku pelaksana proyek, kata Ade, hanya menunggu hasil pembebasan tanah tersebut. Hingga kini, ia pun belum mengetahui soal pagar sekitar makam yang ditutupi kain kafan sebagai bentuk protes warga.

"Tapi itu saya belum tahu pastinya. Tapi solusi-solusi itu bisa terjadi di lapangan dan dicari yang mana masyarakat bisa terima," ujarnya.


Ia pun berharap persoalan makam keramat di sekitar wilayah proyek, di Desa Cisereh, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, bisa segera diselesaikan. Lahan lain yang terkena imbas proyek pun ia minta segera dituntaskan, sebab ditargetkan selesai di akhir tahun 2018.

"Harusnya iya (diprioritaskan). Harusnya. Tapi ya semua-lah harusnya semua yang kena jalan tol harus dicarikan solusinya," ujar Ade.


Diberitakan, rencana pembangunan Jalan Tol Serpong-Balaraja itu ditolak warga RT 01 RW 01 Desa Cisereh, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Mereka menolak pembangunan Jalan Tol Serpong-Tigaraksa yang melintasi kampung mereka.

Alasannya, rencana pembangunan tol tersebut menyentuh pemakaman di TPU Cisereh, termasuk sejumlah makam yang dianggap keramat.


Warga kemudian memagari TPU Cisereh menggunakan kain kafan. Itu dilakukan sebagai simbol penolakan mereka terhadap pembangunan Jalan Tol Serpong-Balaraja yang menyentuh pemakaman tersebut.

"Itu sengaja dikasih pagar karena menolak pembangunan tol. Kain kafan dipasang setelah warga tahu pembangunan tol kena makam," kata warga setempat, Wardoyo, saat ditemui, Selasa (6/3). (tsa/jor)