DetikNews
Kamis 01 Maret 2018, 14:17 WIB

Syarat Fahri Diterima PKS Lagi: Ngaku Salah dan Jadi Kader Pemula

Elza Astari Retaduari - detikNews
Syarat Fahri Diterima PKS Lagi: Ngaku Salah dan Jadi Kader Pemula Fahri Hamzah. (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom).
Jakarta - Presiden PKS Sohibul Iman menyatakan partainya siap kembali menampung Fahri Hamzah sebagai kader. Namun ada syaratnya, Fahri harus mau mengakui kesalahan dan meminta maaf.

"Kalau pak Fahri sudah bukan di PKS lagi jadi nggak usah dihitung, kan sudah di luar PKS. Sudah tidak kader juga. Posisinya kan beliau sudah diberhentikan dari PKS dari seluruh jenjang keanggotaan," ujar Sohibul kepada wartawan, Kamis (1/3/2018).

Pernyataan itu disampaikan Sohibul saat dimintai tanggapan soal perseteruan PKS dengan Fahri Hamzah yang tak kunjung rampung. Meski telah dipecat PKS, Fahri masih menduduki kursi pimpinan DPR yang merupakan jatah dari PKS.


Sohibul pun menyebut PKS masih bisa menerima Fahri kembali sebagai kader. Namun yang bersangkutan harus mematuhi syaratnya.

"Apakah Fahri tidak lagi ada harapan di PKS? Ada harapan. Beliau bisa masuk PKS lagi. Sekarang saja saya ingin rekrut Anda bisa masuk PKS. Fahri yang sudah pernah di PKS masa tidak kita perbolehkan," tutur Sohibul yang juga menyebut Fahri masih memiliki fans di PKS.

Syarat Fahri Diterima PKS Lagi: Ngaku Salah dan Jadi Kader PemulaSohibul Iman. (Foto: Zaki Alfarabi / Tim Infografis detikcom)

"Syaratnya ringan kok: akui kesalahan dan minta maaf. Jadi kader PKS lagi, mulai lagi dari kader pemula. Untuk jadi yang disebutkan yakni anggota ahli, kalau sudah pernah kan tahu jalannya. Itu joke nya," imbuh dia.

Saat ini, PKS masih terus berhadapan dengan Fahri Hamzah di tingkat kasasi. Fahri memenangkan gugatannya di tingkat pertama dan tingkat banding soal pemecatannya dari PKS.

"Saya kasih tahu ya, bagaimana ganjilnya putusan pengadilan. Fahri itu masukin ke pengadilan tidak mau pakai pasal perselisihan partai politik. Dia maunya pakai PMH (perbuatan melawan hukum), perdata. Orang PAN itu punya masalah di partainya, dia melakukan hal yang sama, mengadukan lewat PMH, langsung NO (niet ontvankelijke verklaard), itu tidak diterima karena salah alamat," beber Sohibul.


Dia menyebut, gugatan kader PAN yang dimaksud itu juga dimasukkan ke PN Jakarta Selatan, sama seperti gugatan Fahri. Sohibul mempertanyakan mengapa dengan kasus yang sama, tapi gugatan yang satu diterima dan yang satu tidak.

"Di pengadilan yang sama Fahri memasukkan, diterima. Ini PAN di (PN) Selatan juga. Ada apa ini? Itu sudah kejanggalan yang paling nyata. Terus diproses kan, kita sebagai tergugat belum memberikan eksepsi apa-apa, langsung keluar putusan sela," ungkapnya.

"Di putusan sela keluar kalimat 'setelah mendengarkan eksespsi tergugat', padahal kita belum membacakan eksepsi. Kita sudah adukan ke Komisi Yudisial dan sebagainya. Ya Anda tahu di negeri ini hukum kan ada mafianya. Ya walaupun kita jangan sampai pengadilannya makin marah-marah ke kita kan. Menurut saya ada pihak-pihak yang bermain tidak pakai etika dan hukum," tambah Sohibul.

Tak hanya itu, PKS menilai putusan pengadilan yang memenangkan Fahri juga telah melampaui kewenangan pengadilan. Putusan itu disebut Sohibul telah melanggar UU MD3 yang mengatur mengenai MPR, DPR, DPRD dan DPD.


"Bab pimpinan DPR itu diatur oleh UU tersendiri, MD3. Dan itu hak fraksi, kenapa dia membuat keputusan 'DPR maupun PKS tidak boleh membuat perubahan apapun terkait Fahri'. Gila bener ini putusan, sapu jagad ini. Dan ini lah yang dipakai alasan oleh pimpinan DPR, kami tidak berani memprosesnya'," paparnya.

Seperti diketahui, Fahri melawan dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Jaksel dan menang. Tak terima, PKS mengajukan banding ke PT Jakarta, tapi kalah dan tetap harus membayar Rp 30 miliar kepada Fahri.

"Amar putusan, menguatkan," putus hakim tinggi Daming Sunusi, seperti dilansir website Mahkamah Agung (MA), Kamis (14/12).


Gugatan Rp 30 miliar itu dikabulkan karena majelis menganggap apa yang dialami Fahri setelah dipecat sangat berat. Majelis menganggap Fahri mengalami tekanan psikologis akibat pemecatan tersebut. Namun PKS tak menyerah. PKS akan mengajukan kasasi ke MA.

Fahri sendiri berkukuh menolak dipecat PKS. Meski begitu, dia tidak berpikir untuk membelot dari PKS.

"Gini ya, saya kan sudah sering katakan saya ini orang setia. Saya tidak gampang itu jatuh cinta, dan saya tidak gampang berpindah hati," ujar Fahri, Kamis (14/12).
(elz/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed