Cambuk Juga Para Koruptor!
Jumat, 24 Jun 2005 22:10 WIB
Bireuen - Rasa pedih dan malu menyelimuti hati para terhukum cambuk di Aceh. Mereka merasa diperlakukan tidak adil karena tidak ada koruptor yang dihukum cambuk."Selain sakit, saya merasa malu. Saya sebelumnya sudah menjalani hukuman kurungan selama dua bulan. Ini tidak adil karena masih banyak penjahat besar, terutama koruptor, yang tidak diadili," ujar Zakaria bin Yusuf.Warga pulau Kiton berusia 60 tahun ini dihukum cambuk karena berjudi. Dia dicambuk di Mesjid Agung Bireuen dan disaksikan ribuan orang. Dia pun meminta agar para penjahat besar, terutama para koruptor di Aceh, juga dihukum sesuai Syariat Islam.Di depan wartawan, Zakaria menunjukkan punggungnya usai menerima hukuman cambuk. Tampak tiga garis berwarna merah bekas cambukan.Hal senada disampaikan H Ishak Ahmad (60). Menurutnya hukuman cambuk yang menimpa anaknya yang bernama Syafrizal tidak adil. Apalagi anaknya sudah membayar seorang jaksa agar tidak dihukum."Saya malu sekali, sebab hukuman ini tidak fair. Anak saya sudah membayar Rp 800 ribu kepada jaksa supaya bebas dari hukuman ini. Tapi kenapa dia tetap dihukum. Saya tidak terima. saya mendukung Syariat Islam, tapi bukan begini caranya," ujar Ishak dengan gusar.Plh Gubernur NAD Azwar Abubakar punya pendapat lain. Menurutnya pelaksanaan hukuman cambuk dilakukan dengan cara-cara yang manusiawi dan tidak melanggar HAM, karena si terhukum tidak ditahan hingga eksekusi berlangsung."Selain itu mereka telah diperiksa kesehatannya sebelum dan setelah pencambukan. Terhukum juga memakai baju saat dicambuk. Hukuman ini lebih pada upaya bertobat dan tidak boleh digunakan untuk balas dendam," urainya.Azwar juga berharap agar daerah-daerah lain di Aceh melaksanakan aturan-aturan Syariat Islam. Jadi tidak hanya Bireuen yang menerapkannya.
(sss/)











































