Isu Jokowi-JK Jilid II, Regenerasi Kepemimpinan Dipertanyakan

Nur Indah Fatmawati - detikNews
Selasa, 27 Feb 2018 10:30 WIB
Jokowi dan Jusuf Kalla (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Muncul wacana Jusuf Kalla (JK) kembali maju di Pilpres 2019 sebagai cawapres Joko Widodo (Jokowi). Wacana tersebut dipertanyakan.

"Apa tidak ada pengusaha lain yang lebih muda dari beliau atau tokoh-tokoh keumatan lain yang mungkin juga? Apakah dari barisan pendukung pemerintah atau yang berkompetisi dengan pemerintah ketimbang membicarakan nama?" ujar Direktur Eksekutif Lembaga Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun saat dihubungi, Senin (26/2/2018) malam.

Rico Marbun.Rico Marbun. (Foto: Ari Saputra)

Rico mengatakan, performa Jokowi di bidang ekonomi masih belum memuaskan. Ia juga menilai, Jokowi belum merepresentasikan keumatan. Ia menyarankan figur muda yang cakap di bidang ekonomi serta mewakili keumatan.


"Kriteria yang cocok untuk bangsa ini didefinisikan dulu sosok figur seperti apa. Selain baik untuk bangsa, tapi baik juga untuk PDIP. Ketimbang lempar nama-nama orang yang akhirnya jadi komoditas obrolan warung kopi politik yang usianya tidak lama. Jadi yang lebih substantif," kata Rico.


Selain itu, wacana majunya JK masih terbentur konstitusi di mana ia sudah menjabat dua kali sebagai Wapres. Aturan tersebut termuat dalam UUD 1945 pasal 7.


"Kalau ternyata JK diisukan sebagai cawapres, bukan hanya dimintai pendapat. Ada konsekuensi, Pak SBY juga bisa maju. Logikanya bila JK diusulkan, SBY perlu diperjuangkan lagi," paparnya.

Isu JK menjadi cawapres untuk Jokowi dimunculkan oleh PDIP. Hanya saja isu itu terbentur dengan konstitusi mengingat JK sudah dua kali menjadi capres. (dkp/tor)