DetikNews
Jumat 23 Februari 2018, 16:14 WIB

Polisi Korban Bom Thamrin Jadi Saksi Sidang Teroris Aman Abdurrahman

Yulida Medistiara - detikNews
Polisi Korban Bom Thamrin Jadi Saksi Sidang Teroris Aman Abdurrahman Foto: Polisi bersaksi (putih) di sidang Aman Abdurrahman (Yul-detikcom)
Jakarta - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menggelar sidang lanjutan mantan narapidana kasus terorisme Aman Abdurrahman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman. Polisi yang menjadi korban bom Thamrin 2016, Ipda Deni Mahieu dihadirkan jaksa penuntut umum.

Deni merupakan polisi yang menjadi korban di pos polisi jalan Thamrin. Deni menyebut dia merasa curiga pos polisi di jalan Thamrin sebelum terjadinya ledakan di Starbucks.

"Memang jalur itu pak saya sedang patroli, saya kan kalau selama satu bulan di jalur itu bisa puluhan kali bertugas di sana. Saya hanya merasa saat itu di batin saya itu aneh. Saya karena merasa di batin saya merasa ada suatu keanehan sehingga saya tergerak hati memeriksa pos tersebut," kata Deni, di Pengadilan Negeru Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Jumat (23/2/2018).




Saat itu dia sedang menaiki sepeda motor dinas dari arah patung kuda Monas, Jakarta Pusat. Kemudian di sekitar lampu merah, ia melihat ke arah pos polisi.

Selanjutnya dia melihat dari luar ada sepeda motor milik anggota polisi dan pintu terbuka. Namun tidak ada anggota di dalamnya.

"Saat itu jam 11 kurang saya lagi di patung kuda kan ada bubaran di deket Monas. Saya pakai motor jalan ke arah HI, sampai ke lampu merah saya stop saya melihat kok aneh tapi saya lihat di sana ada sepeda motor anggota tapi pos itu terbuka gak ada orang. Saya jalan saya pikir apa ini saya gak bisa prediksi itu bom. Saya jalan lagi ke HI saya berpikir wah ini harus saya periksa," ucapnya.

Ketika masuk ke pos tersebut ia merasa aneh karena ada tas berwarna hitam dominan kemudian terletak di ujung. Sementara ia hafal kebiasaan anggota polisi yang selalu meletakkan tas di sebelah kanan pintu.

Selain itu ia merasa ada yang aneh dengan kue, air mineral yang ada di meja dan kotak di dekat tas. Setelah melihat bentuk kotak itu seperti memiliki telinga dan berfungsi sebagai pemantik seketika itu juga instingnya yakin bahwa tas tersebut terdapat bom.

"Sudah ratusan kali itu saya masuk. Kebiasaan anggota masuk langsung taruh tas di samping kanan ada meja kecil kok ada ransel di ujung sana. Lalu ada kotak gak bermerek ibaratnya kotak dia punya telinga kanan kiri itu sebagai pemicu," ucapnya.

Tak lama kemudian ia mendengar ledakan dari Starbucks melalui kaca pos polisi, ia melihat ada seseorang terlempar. Selanjutnya dia mencoba menghubungi anggota polisi yang lain menggunakan handy talkie (HT), tak lama kemudian tangannya tersetrum dan muncul ledakan dari pos polisi itu.


(yld/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed