Citarum, Penanda Tarumanegara yang Kini akan Direvitalisasi

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 23 Feb 2018 14:41 WIB
Citarum dilihat dari ketinggian (Wisma Putra/detikTravel)
Jakarta - Citarum adalah sungai bersejarah yang lekat dengan cerita tentang kerajaan tertua di Pulau Jawa, Tarumanegara. Namanya disebut dalam prasasti Abad ke-4 sampai Abad ke-7. Tapi itu dulu. Citarum di masa moderen berubah menjadi got raksasa.

Presiden Jokowi pada 16 Januari 2018 menyebutkan ada 3.000 industri yang membuang limbahnya di sungai ini. Padahal sungai ini merupakan sumber air bagi 27,5 juta penduduk di Jawa Barat dan DKI Jakarta.



Ini adalah sungai terbesar dan terpanjang di Tatar Pasundan. Citarum merupakan hilir dari sembilan anak sungai yang membelah Kota dan Kabupaten Bandung.

Citarum berhulu di Situ Cisanti di Bandung dan berhilir di Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.

Citarum, Penanda Tarumanegara yang Kini akan DirevitalisasiCitarum yang sesak oleh sampah plastik, direkam oleh aktivis Gary dan Sam Bencheghib (Dok. Make A Change World)


Daily Mail pada 10 April 2014 menerbitkan berita berjudul "Surga Indonesia masa silam saat ini tersumbat limbah rumah tangga dan bahan kimia beracun hasil pabrik tekstil". Mereka mengutip laporan Channel 4 pada acara Unreported World.



Disampaikan, ada kandungan merkuri dalam limbah. Air sungai bisa berubah warna merah, hijau, kuning, dan hitam karena limbah tekstil. Kabarnya banyak merek-merek terkenal punya hubungan dengan pabrik tekstil yang membuang limbahnya di Citarum.

Organisasi nirlaba asal New York yang berfokus di isu lingkungan, Blacksmith Institute mengeluarkan laporan "The Worlds Worst 2013: The Top Ten Toxic Threats' pada 2013. Laporan itu menyebut air Citarum mengandung bahan kontaminasi industrial dan kontaminasi rumah tangga dengan level timbal 1.000 kali lebih tinggi dari ambang batas yang ditetapkan USEPA (Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat) untuk air minum.

Buletin APN Science menemukan ada kandungan aluminium sebanyak 97 ppb (part per billion), mangan 195 ppb, dan besi (194 pbb) yang terkonsentrasi di sungai. Ini jauh lebih tinggi dibanding angka rata-rata seluruh dunia, yakni kandungan alumunium 32 ppb, mangan 34 ppb, dan besi 66 ppb.



USEPA menetapkan rekomendasi soal air minum. Kandungan logam berat di air minum, misalnya mangan, adalah 50 ppb saja supaya meminimalisir dampak kesehatan. Citarum mengandung mangan hampir empat kali lipat ketimbang standar air minum yang ditetapkan USEPA itu.

Dalam laporan tahun 2013 itu sudah disebutkan, Indonesia telah mengambil langkah menangani isu lingkungan ini. Saat itu, Indonesia menegosiasikan paket utang 500 juta Dolar dengan Asian Development Bank untuk merehabilitasi Citarum. Duit 500 juta Dolar ini akan dicicil pencairannya selama 15 tahun dan merupakan bagian dari rencana 3,5 miliar Dolar untuk merestorasi Citarum.

Citarum, Penanda Tarumanegara yang Kini akan DirevitalisasiPresiden Jokowi (Wisma Putra/detikcom)




Kini, Presiden Jokowi meniatkan merevitalisasi Citarum. Dia menetapkan target, revitalisasi harus selesai selama tujuh tahun.

"Rehabilitasi sudah dimulai 1 Februari lalu. Insya Allah bisa diselesaikan selama tujuh tahun," kata Jokowi usai melakukan penanaman pohon di hulu sungai Citarum di Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/2) kemarin.

Tujuan dari revitalisasi ini agar air Citarum kembali normal bahkan bisa menjadi sumber air minum dalam tujuh tahun ke depan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menyelesaikan pembangunan infrastruktur sebagai pengendali banjir Citarum Hulu dengan anggaran Rp 1,59 triliun.

(dnu/imk)