Sidang Setya Novanto

Di Sidang Novanto, Jaksa Cecar Saksi soal 'Kuning Bener' dan BPK

Faiq Hidayat - detikNews
Kamis, 22 Feb 2018 16:16 WIB
Jaksa tampilkan komunikasi antara Johannes Marliem dengan Anang Sugiana di sidang (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Percakapan antara Anang Sugiana Sudihardjo dengan Johannes Marliem kembali dibongkar jaksa KPK. Ada kode tentang 'kuning bener' yang disebut-sebut.

"Dalam percakapan, ada kalimat 'sama di T udah ok yah, nanti bosnya ganti, kuning bener'. Konteksnya apa?" tanya jaksa pada Anang yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018).

Anang merupakan Direktur Utama PT Quadra Solution, sedangkan Johannes adalah mantan bos PT Biomorf. Anang menyebut konteks perbincangan dengan Johannes tersebut terkait pemeriksaan BPK.

"Ya waktu itu kan mau diperiksa lagi, diperiksa BPK juga," jawab Anang.


Berikut penggalan percakapan Anang dengan Johannes:

Anang: Tapi kebenaran yang ngegantiin si Agung namanya, kuning bener
Marliem: Oh kuning bener. Oh iya iya baguslah
Anang: Kuning bener...yang...yang...yang masukin si...dulu si itu
Marliem: Si SN?
Anang: Iya SN

Di Sidang Novanto, Jaksa Cecar Saksi soal 'Kuning Bener' dan BPKTranskrip sadapan yang ditunjukkan jaksa (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)



Menurut Anang, Agung, salah satu anggota BPK yang memeriksa proyek e-KTP. Agung disebut Anang juga merupakan kader Golkar bersama Setya Novanto.

"Itu saya denger cerita dari Andi," tutur Anang.

Selain itu, jaksa menduga dalam percakapan ini juga Anang dan Johannes sudah berhitung proyek e-KTP masuk penyelidikan KPK.

"Rekaman percakapan itu (menyebutkan) arena KPPU bukan KPK. Ini belum masuk ke penyidikan, kan masih pengumpulan data-data? Konteks pembicaraannya apa?" tanya jaksa

"Saya kira waktu itu untuk urusan pemeriksaan-pemeriksaan KPK," jawab Anang.

Jaksa menilai Anang dengan Johannes sudah khawatir proyek e-KTP masuk penyelidikan KPK. Bahkan jaksa menilai Anang dan Johannes sudah khawatir bahwa proyek yang merugikan Rp 2,3 triliun ini bermasalah.

"Apakah kemudian sudah mulai ada khawatir atau sadar proyek e-KTP ada yang keliru?" jelas jaksa.

"Saya nggak tahu waktu itu sudah mulai ada penyelidikan," ucap Anang.

Berikut isi percakapan Anang dengan Johannes pada bulan Juli tahun 2013:

Anang: Dia bilang area ini it,s out of KPK jurisdiction kalau ini...dia bilang yang elu bisa (suara tidak jelas) persengkongkolan itu areanya KPPU
Marliem: KPPU
Anang: Bkan areanya KPK
Marliem: Iya iya kecuali ada...
Anang: (suara tidak jelas)
Marliem: Peristiwa tertangkap tangan, nah itu baru
Anang: iya gitu
Marliem: Iya kan? Jadi
Anang: hmm...
Marliem: Jadi kasus masuk makanya
Anang: hmm...
Marliem: Itu yang kelem...makanya saya bilang lah ini kan dari pengaduan oke lah jadi ini katanya belum..belum masuk ke penyidikan juga kan? Cuman...
Anang: Belum
Marliem: Pengumpulan data-data
Anang: Baru pengumpulan data
Marliem: Ya kalau memang bisa langsung dipadamkan ya udah, artinya sudah diperiksa dan memang...dan itu kan mereka harus nunggu bpk bro! Ada kerugian negara atau enggak? Itu kan begitu kan?
Anang: iya iya...ya tapi BPK-nya kan masih mundur nih hasilnya
Anang: Tapi kebenaran yang ngegantiin si Agung namanya, kuning bener
Marliem: Oh kuning bener. Oh iya iya baguslah
Anang: Kuning bener...yang...yang...yang masukin si...dulu si itu
Marliem: Si SN?
Anang: Iya SN

(fai/dhn)