DetikNews
Selasa 20 Februari 2018, 17:31 WIB

Amien Rais: Kenapa Mengungkap Peneror Novel Baswedan Jadi Ruwet?

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Amien Rais: Kenapa Mengungkap Peneror Novel Baswedan Jadi Ruwet? Novel Baswedan (Dok. Istimewa)
Jakarta - Mantan Ketua MPR Amien Rais mempertanyakan polisi yang belum bisa mengungkap kasus penyiraman air keras ke penyidik senior KPK Novel Baswedan. Amien membandingkan dengan pengungkapan kasus bom Bali.

"Kalau melihat Novel Baswedan sudah 200 hari lebih itu juga tidak ketemu, padahal Polri kita ini dipuji oleh dunia internasional ketika bom Bali nggak sampai 5 hari sudah tertangkap. Ketika bom Marriot juga tertangkap. Tiba-tiba ini sesuatu yang lebih mudah, jadi ruwet. Apa gerangan terjadi?" kata Amien di kantor DDII, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (20/2/2018).

Amien menyinggung soal Novel Baswedan saat dirinya menyoroti kinerja Polri dalam kasus penyerangan terhadap ulama. Selain kasus teror Novel, Amien meminta Polri segera mengungkap dalang penyerangan terhadap pemuka agama.

"Jadi hanya orang yang malas berpikir atau pura-pura tidak cerdas kalau berkesimpulan, penganiayaan, pelemahan, penghinaan, pembunuhan para ulama itu dianggap sesuatu kebetulan, kejahatan biasa, tidak usah diperbesar dan sebagainya. Kalau melihat keajegan, cara memilih korban dan lain-lain. Itu dalangnya. Ada silumannya. Ini saya kira yang harus segera ditemukan," tuturnya.


Anies berharap Polri tak tebang pilih dalam menangani kasus. Kata Amien, ada beberapa kasus yang unsur pidananya sudah jelas tapi tak kunjung diproses hukum.

"Kedua, umat Islam perasaannya sangat sensitif sekarang ini. Bagaimana Viktor Laiskodat yang sudah menantang akan membunuh umat Islam dengan kata-kata bersayap tidak diapa-apakan. Sementara Saudara Alfian Tanjung mengingatkan kita bahaya PKI itu dibawa ke meja hijau dan dijatuhi hukuman," ujarnya.

Amien mengingatkan pemerintah untuk berlaku adil. Amien juga tidak sepakat bila mayoritas diistimewakan.

"Saya mengingatkan kepada rezim, tolong negeri ini milik umat Islam dan nonmuslim sama. Jadi kita menantang mayoritas diistimewakan, tidak. Di dalam Islam pun, semua dalam kedudukan hukum sama," sambungnya.

Sebelumnya, Novel Baswedan mengalami teror penyiraman air keras di depan masjid di dekat rumahnya setelah menjalankan salah subuh pada 11 April 2017. Sejak saat itu, Novel harus dirawat di Singapura hingga menjalani beberapa kali operasi untuk menyembuhkan kondisi matanya.
(knv/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed