DetikNews
Selasa 20 Februari 2018, 12:31 WIB

Cerita Mengerikan Kemunculan Black Panther di Jawa

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Cerita Mengerikan Kemunculan Black Panther di Jawa Black panther yang muncul di Semeru baru-baru ini. (Foto: dok Istimewa)
Jakarta - Dua ekor macan tutul Jawa terekam kamera perangkap di Taman Nasional Bromo Tengger (TNBTS). Salah satunya berwarna hitam pekat, yang sering disebut sebagai macan kumbang alias black panther dalam bahasa Inggris.

Rupanya penampakan black panther di Jawa bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, hewan yang bernama latin Panthera pardus melas ini beberapa kali muncul.




Pulau Nusakambangan adalah salah satu tempat endemik dari satwa ini. Konon jumlahnya mencapai belasan ekor, sehingga cukup mengerikan bila menjelajahi lokasi itu di malam hari.

Menurut data BKSDA Jawa Tengah, macan kumbang di Nusakambangan terakhir kali terlihat pada Oktober 2017. Selain macan kumbang yang berwarna hitam, ada yang kulitnya bermotif totol-totol atau yang sering disebut macan tutul.

Pada Januari 2014, macan kumbang diduga masuk ke permukiman dan menyerang warga Banyumas, Jawa Tengah. Tiga orang mengaku telah memergoki sosok satwa langka itu.

"Kita cek ke TKP ada jejak dari tapak kaki dan kami menduga itu jejak kaki macan kumbang," kata Kapolsek Kedungbanteng saat itu, AKP Sambas Budi Waluyo, Kamis (16/1/2014).

Sebelumnya lagi, pada Oktober 2013, sebanyak 4 orang jadi korban penyerangan macan kumbang di Lumajang, Jawa Timur. Empat orang terluka akibat cakaran saat berusaha melakukan penangkapan di bagian dapur rumah Mulyono, warga di Dusun Sumber, Desa Sentul, Kecamatan Sumbersuko. Warga merasa resah dan ngeri dengan masuknya karnivora itu ke permukiman.

"Dalam proses evakuasi dengan bius. Kita juga pasang jaring. Tapi dalam proses itu kurang sukses. Waktu makin sore dan banyaknya masyarakat," kata Kepala Bidang Wilayah III BBKSDA Jawa Timur kala itu, Sunandar, kepada detikcom, Rabu (2/10/2013).

Macan kumbang itu akhirnya dieksekusi dengan tembakan peluru tajam setelah upaya pelumpuhan dengan tembakan bius dan jaring gagal. Tim penangkapan juga mempertimbangkan keselamatan warga yang saat itu cukup banyak dan waktu yang sudah mendekati petang.

Kemudian, pada 2011, tepatnya pada November, jejak kaki black panther muncul di lereng Gunung Merapi. Jejak itu memperlihatkan kawanan macan kumbang berkeliaran di lokasi banjir lahar dingin Merapi. Jejak tapak kaki itu berukuran 8x10 cm.

"Saya beberapa kali melihatnya. Bagi kami itu sudah lumrah karena hutan di sekitar desa saya memang sering dilewati macan. Namun yang lewat biasanya macan kumbang. Untuk macan loreng ada tapi sangat jarang terlihat," kata salah satu warga, Zamrodin, saat menyusuri aliran Kali Putih bersama wartawan, Jumat (18/11/2011).
(bag/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed