DetikNews
Senin 19 Februari 2018, 21:05 WIB

Nazaruddin Lupa di Sidang, Pengacara Novanto Bantah Intimidasi

Aditya Mardiastuti - detikNews
Nazaruddin Lupa di Sidang, Pengacara Novanto Bantah Intimidasi Maqdir Ismail (Foto: dok detikcom)
Jakarta - Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin kerap mengaku lupa ketika ditanya realisasi pembagian uang di ruangan Setya Novanto. Pengacara Novanto, Maqdir Ismail, membantah tuduhan kliennya melakukan intimidasi ke Nazaruddin.

"Nggak betul. Bagaimana mengintimidasi Nazaruddin, dia dijaga begitu ketat oleh KPK, oleh petugas-petugas KPK, kok," kata Maqdir seusai sidang perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (19/2/2018).

Dalam sidang hari ini, Nazaruddin mengaku lupa soal pertemuan di ruangan Novanto lantai 12 gedung DPR hingga anggota DPR yang menerima fee proyek e-KTP saat itu. Padahal, sebelumnya, Nazaruddin termasuk vokal bernyanyi soal tokoh yang terlibat dalam korupsi e-KTP.

"Jangan lupa ketika itu dia ingin mendapat JC (justice collaborator atau saksi pelaku yang bekerja sama). Setelah itu dapat, ya gone semua, yang lain jadi lupa," katanya.

"Apakah yang diucapkan Nazaruddin dulu itu bisa diuji kebenarannya atau tidak. Sekarang bisa diuji keterangan yang beliau sampaikan dibantah banyak orang," imbuh Maqdir.


Maqdir pun mempertanyakan sikap Nazaruddin yang kerap ingat ketika ditanya jaksa pada KPK, namun lupa ketika ditanya pihaknya. Sikap Nazaruddin itu disebut Maqdir perlu diperhatikan karena kesaksiannya patut disangsikan.

"Yang jadi problem, ketika ditanya jaksa, seperti orang ingat, tapi kami tanya dengan cara lain, dia jadi lupa," ujar Maqdir.

"Kalau kita bicara undang-undang, keterangan saksi harus diperhatikan dengan cara hidupnya. Artinya, kalau orang suka bohong, mestinya keterangannya nggak bisa dipercaya. Ini ketentuan KUHAP, ya," imbuh Maqdir.

Dalam perkara ini, Novanto didakwa melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang/jasa proyek e-KTP. Novanto juga didakwa menerima aliran uang sebesar USD 7,3 juta melalui keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan orang kepercayaannya, Made Oka Masagung.
(ams/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed