Rencanakan Bom Thamrin, Aman Abdurrahman Berkaca dari Teror Paris

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Kamis, 15 Feb 2018 13:55 WIB
Foto: Sidang Aman Abdurrahaman (Vino-detikcom)
Jakarta - Mantan Narapidana kasus terorisme Aman Abdurrahman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman menjadi dalang teror bom Thamrin 2016. Oman menyuruh sejumlah orang untuk melaksanakan perintah pimpinan khilafah agar menjalankan amaliah jihad seperti di Paris, Perancis 2015.

Awalnya anggota JAD sebagai wadah pengikut khilafah islamiyah pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi mengadakan rapat pada November 2015 dengan menggunakan cover pengolahan pengobatan herbal. Setelah itu, pimpinan JAD Ambon Saiful Munthohir alias Ahmad Hariyadi bersama Khaidar Ali menemui Oman di Lapas Nuskambangan.

Dalam pertemuan itu, Oman mengajak Saiful ke pojok ruang sebab saat itu sedang ada kajian. Oman kemudian memprovokasi Saiful dengan menyampaikan perintah pimpinan khilafah.

"Ada perintah dari umaroh atau pimpiman khilafah dari Suriah untuk melaksanakan amaliah jihad seperti yang terjadi di Paris-Perancis dan teknis pelaksanaannya nanti akan disampaikan oleh Rois (Iwan Darmawan alias Rois)," kata Oman seperti saat disampaikan dalam dakwaan oleh jaksa Anita Dewayani di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Kamis (15/2/2018).




Saiful kemudian menyanggupi permintaan tersebut. Setelah itu, dia juga diajak berbicara oleh Iwan terkait hal yang sama. Target dari aksi amaliah itu orang-orang bule.

"Sasaran dan target adalah orang-orang bule terutama warga Perancis atau Rusia dan Iwan menyiapkan dana sejumlah Rp 200 juta," ujae Anita.

Selanjutnya, Iwan Darmawan juga menemui Muhammad Ali alias Rizal (orang yang meninggal di serangan bom thamrin) di Meruya, Jakarta Barat. Dia menyampaikan pesan dari Oman terkait aksi amaliyah serupa Paris.

"Ali tergerak menawarkan dirinya untuk menjadi koordinator aksi amaliyah itu," terang Anita.

Singkat cerita, orang yang akan melakukan aksi tersebut berkomunikasi dengan orang lain yang diperintah oleh Oman. Selanjutanya, pada tahun 2015, Saiful memberitahu Iwan bahwa akan dilakukan pelatihan militer di Malang.

Pada akhirnya, Muhammad Ali alias Abu Isa alias Rizal bersama Sunakim alias Abu Yaza, Dian dan Azzam (pelaku bom bunuh diri yang seluruhnya meninggal dunia) melakukan kekerasan berupa serangan dengan cara meledakkan Starbuck Cafe di Jalan Thamrin atau pos polisi. Karena kejadian tersebut, sejumlah warga menjadi korban.

"Itu merupakan pelaksanaan amaliyah seperti di Paris sebagaimana diperintahkan Oman," imbuh Anita.

Oman didakwa menggerakkan orang lain dan merencanakan sejumlah teror di Indonesia termasuk Bom Thamrin 2016. Oman dinilai telah menyebarkan paham yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan objek-objek vital.

Atas perbuatannya, Oman dijerat pasal 14 Jo pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. (knv/rvk)