6 Bulan Dipisahkan Tsunami, Sri Bertemu Ayahnya
Rabu, 22 Jun 2005 16:26 WIB
Banda Aceh - Gelombang tsunami membuat Sri Handayani (16) terpisah dengan orang tuanya. Setelah enam bulan terpisah, tapi akhirnya Tuhan mempertemukan kembali Sri dengan Handayani. Tangis membuncah saat Sri bertemu ayahnya itu. Apalagi, Sri mengetahui ibundanya meninggal akibat tsunami itu. Sri bertemu ayahnya, Muhammad ali (45) di halaman belakang Children Centre Dinas Sosial NAD-UNICEF, Banda Aceh, Rabu (22/6/2005). "Mamak hana lhee," ucap Muhammad Ali begitu bertemu dan memeluk Sri Handayani. Ibu tak ada lagi, begitu kira-kira ungkapan Muhammad Ali pada anak ketiganya itu. Sri Handayani tak kuasa menahan tangisnya. Keduanya larut dalam suasana duka yang dalam. Setelah bertangisan dan melepas rindu, keduanya membeberkan kisah mereka pada wartawan lokal dan asing yang berada di Children Centre tersebut.Dituturkan Muhammad Ali, ketika tsunami datang melanda kampungnya di Desa Bire, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, dia tengah berada di pinggir kampung karena hendak ke gunung mencari dan membelah kayu. Pekerjaan itu memang dilakukannya sehari-hari. "Begitu saya lihat orang-orang berlarian dari rumah dan jalan-jalan dan mengatakan air laut naik, saya mau balik ke kampung. Tapi kata orang-orang tidak bisa. Saya hanya bisa melihat dari jauh, air begitu putih dan saya mendengar suara ledakan tiga kali. Kemudian saya lari ke gunung," ujar dia mengingat-ngingat. Ketika hari beranjak sore dan air sudah mulai surut, Muhammad Ali kembali ke kampungnya. Mendapati kampungnya yang porak poranda, hatinya sungguh pilu. Dari tiga orang anaknya dan isterinya yang di rumah waktu itu, dia hanya menemukan dua anaknya, Wahyudi (11) dan Syukron (6). Sedangkan isterinya, Zainabon tak diketahui di mana keberadaannya."Dua anak saya yang kecil-kecil itu saya temukan bersama beberapa tentara (TNI, Red) yang selamat. Isteri saya nggak tahu ke mana. Si Sri Handayani waktu itu di Meulaboh, dia sudah di sana sekitar dua minggu sebelum tsunami. Sedangkan anak saya yang paling besar, di Malaysia," paparnya.Beberapa hari setelah tsunami, dirinya hendak ke Meulaboh mencari tahu keberadaan Sri, begitu dia memanggil Sri Handayani. Tapi karena terputusnya jalan, akhirnya dia hanya pasrah, apalagi saat mendapat kabar, Meulaboh juga luluh lantak dihantam tsunami.Dua bulan setelah tsunami, dia mengaku mendengar kabar bahwa Sri Handayani selamat, dari seorang tetangganya. Ingin membuktikan kebenaran itu, Muhammad Ali ingin sekali ke Meulaboh. Tapi sayangnya, sampai beberapa waktu lalu, dirinya tak punya uang untuk berangkat ke Meulaboh.Sayup-sayup, Sri Handayani juga mendengar kabar ayah dan saudara-saudaranya selamat, tapi ibunya disebut-sebut tak selamat. Berita itu didapatnya dari orang-orang Lhong yang ke Meulaboh dan juga dari para relawan. Tapi, karena putusnya komunikasi dan Sri tak tahu di mana keberadaan ayah dan adik-adiknya, dirinya tak bisa memastikan kabar tersebut.Hingga Jumat pekan lalu, dirinya yang sudah didaftar oleh Dinas Sosial-UNICEF sebagai anak yang terpisah dari keluarganya, dihubungi pihak UNICEF. Disebutkan, dia akan segera bertemu dengan ayahnya dan saudara-saudaranya. Dengan menggunakan angkutan umum, Sri berangkat ke Banda Aceh ditemani kakak sepupunya, Eva Yulita (26).Sri Handayani sendiri, ketika tsunami sempat terseret gelombang air yang menghantam rumah kakak sepupunya, Eva Yulita, di kawasan Ujung Karang, Meulaboh, Aceh Barat. Karena tak ada uang melanjutkan sekolah, Sri memilih ikut dengan Eva ke Meulaboh, dua minggu sebelum peristiwa tsunami. "Sehabis gempa, dinding belakang rumah sudah jatuh. Saya kemudian menggendong anak kakak saya yang berumur 4 bulan. Tiba-tiba air datang. Saya terseret dan terdampar di dalam rumah orang. Adik yang saya gendong terlepas. Baju saya juga lepas dari badan, karena begitu kuatnya hantaman air ketika itu. Setelah air surut, saya dikasih kain sarung oleh orang-orang yang selamat," ujarnya.Sore hari dirinya baru bertemu dengan Eva Yulita. "Saya pikir, dia dan anak saya tidak selamat. Tapi rupanya dia selamat. Setelah itu kami mengungsi," ujar Eva sembari menitikkan air mata. "Fatia yang tidak selamat," ungkapnya, menyebut anak perempuannya berusia 4 bulan yang digendong Sri. "Sekarang anak saya tinggal satu," katanya melirik seorang anak lelaki, Ade Nisbuk (5) yang duduk di sebelahnya.Dituturkannya, 2 bulan pasca tsunami, mereka masih mendiami kamp pengungsian Lapan di Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh. Tapi akhirnya, mereka pindah ke rumah dinas guru sampai sekarang.Dikatakan dia, setelah pertemuan ini, Sri akan tinggal bersama ayahnya. Hal ini diamini Sri. Meski ayah dan dua saudaranya kini masih tinggal di tenda-tenda penampungan di kawasan Lhoong."Saya mau kembali sekolah. Mudah-mudahan saya bisa jadi Polwan," ujarnya tersenyum sembari menatap ayahnya. Mendengar ucapan itu, Muhammad Ali yang kini mencari kayu-kayu bekas tsunami untuk dijual, tak menyahut. Matanya menerawang jauh.
(asy/)











































