DetikNews
Rabu 14 Februari 2018, 11:19 WIB

Jurus Fire Emergency Response Team Antisipasi Karhutla di Pelalawan

Moch Prima Fauzi - detikNews
Jurus Fire Emergency Response Team Antisipasi Karhutla di Pelalawan Foto: Fire Emergency Response Team Antisipasi Karhutla di Pelalawan (Moch Prima Fauzi/detikcom)
Pelalawan - Musim kebakaran hutan dan lahan diprediksi terjadi pada Februari hingga Maret 2018. Berdasarkan siklus yang terjadi setiap tahunnya, periode itu disebut sebagai waktu terjadinya kebakaran yang melanda Indonesia.

Kemudian kebakaran juga kerap terjadi di periode kedua, yakni Juli dan Agustus.

"Kalau di Indonesia ini kalau kita analisa cenderung ada dua periode musim kemarau. Itu kalau diprediksikan itu masuk di tahun ini di Februari-Maret. Tapi kalau nanti di periode keduanya itu masuk di bulan Juli-Agustus," ujar Asisten Kepala Fire Operational, Sulaeman, di Fire Emergency Response Team (FERT) di Pelalawan, Riau, Selasa (13/2/2018).

Fire Emergency Response Team merupakan regu pemadam kebakaran yang dibentuk dalam menangani kebakaran lahan di area konsesi milik PT Riau Andalan Pulp and Paper. Meski demikian, diakui Sulaeman, timnya tak hanya bertanggung jawab dalam konsesi, namun juga di radius 3 km di sekitarnya.



Sementara itu pencegahan dilakukan melalui upaya pemenuhan peralatan dan juga regu inti. Selama ini FERT memiliki 82 tim yang tersebar di beberapa lokasi rawan di sekitar area konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper yang terletak di Pelalawan, Riau.

Regu inti yang dimilikinya saat ini berjumlah sekitar 1.080 orang. Dari segi peralatan, mereka tak hanya mengandalkan pantauan regu, melainkan juga memanfaatkan teknologi seperti CCTV dan drone.

Jurus Fire Emergency Response Team Antisipasi Karhutla di Pelalawan  Foto: Fire Emergency Response Team Antisipasi Karhutla di Pelalawan (Moch Prima Fauzi/detikcom)


Untuk mengetahui daerah-daerah rawan kebakaran, FERT memiliki sistem bernama fire assessment yang dilakukan pada awal tahun. Sistem tersebut digunakan untuk membuat program kerja selama satu tahun yang mengacu pada prediksi dan histori.

Koordinator Fire Development and Prevention FERT, Widi Santoso, mengungkap tingkat risiko kebakaran dalam beberapa tahap. Tingkatan tersebut dinyatakan dalam warna yang mengindikasikan persentase kebakaran.

Pada tahap 0 hingga 40% divisualkan dengan warna biru. Ini mengindikasikan jika kebakaran masih dalam tingkat rendah (low). Selanjutnya, kebakaran antara 41% hingga 70% mengindikasikan tingkat kebakaran berada di level menengah dengan divisualkan berwarna hijau.

Sementara itu, kebakaran dengan status lebih tinggi ditandai dengan visualisasi warna kuning yang menandakan kebakaran pada tingkat 70%-84%. Lebih tinggi lagi, kebakaran hebat yang mencapai 81% sampai 100% dikategerikan sebagai kebakaran esktrem.

Lebih lanjut, dijelaskan Widi, setidaknya ada 4 parameter yang dapat menjadi tolak ukur dalam terjadinya kebakaran lahan.

"Pertama adalah jumlah hari tidak hujan, kemudian kelembapan relatifnya, kondisi bahan bakar (material yang mudah terbakar seperti ranting, rumput kering dan sebagainya), dan juga curah hujan dalam 15 hari terakhir," ungkapnya.



(nwy/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed